Home Sumbagsel Kadar Klorin dan Fosfat di Sungai Musi Pada Level Memprihatinkan, Bisa Menyebabkan Hal Ini

Kadar Klorin dan Fosfat di Sungai Musi Pada Level Memprihatinkan, Bisa Menyebabkan Hal Ini

Palembang, Gatra.com - Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN), bersama perkumpulan Telapak Sumatera Selatan (Sumsel), dan Spora Institut Palembang, menyusuri Sungai Musi di Palembang, untuk mengukur kualitas air yang menjadi sumber bahan baku air bersih bagi masyarakat "Wong Kito", Minggu (17/7).

Dari hasil uji kualitas air yang dilakukan pijak ESN, kadar klorin dan fosfat pada aliran Sungai Musi cukup tinggi yaitu untuk klorin mencapai 0,16 mg/liter seharusnya tidak boleh lebih dari 0,03 mg/liter. Sedangkan fosfat juga tinggi mencapai 0.59 mg/liter.

"Tingginya kadar klorin dan fospat sangat mempengaruhi sistem pernafasan ikan dan mempengaruhi pembentukan telur ikan," ungkap Peneliti dari ESN, Prigi Arisandi dalam keterangan tertulisnya kepada Gatra.com. Pada kondisi ini, menjadi ancaman besar semakin sulit ditemukannya ikan-ikan di Sungai Musi seperti ikan baung, pisang-pisang, kapiat, patin, tapah bahkan belida.

"Tingginya tingkat pencemaran bahan-bahan kimia pengganggu hormon, memicu gangguan reproduksi ikan yang menurunkan populasi dan punahnya ikan-ikan yang tidak toleran terhadap kadar polutan yang meningkat," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, dalam pengambilan sampel air menunjukkan tingginya kadar logam berat Mangan dan Tembaga yang mencapai 0,2 ppm dan 0.06 ppm (standar tidak boleh lebih dari 0,03 ppm). Di kesempatan ini pula, ESN menguji kadar mikroplastik dalam air di mana dalam 100 liter sampel air Sungai Musi yang diteliti terdapat 355 partikel mikroplastik.

Menurut alumni Biologi Universitas Airlangga Surabaya, bahwa jenis mikroplastik yang paling mendominasi adalah jenis fiber atau benang-benang yang mencapai 80% jenis. Mikroplastik lainnya adalah granula, fragmen dan filamen. Mikroplastik, fosfat, logam berat dan klorin termasuk dalam kategori senyawa pengganggu hormon, sehingga keberadaanya di sungai akan mengganggu proses pembentukan kelamin ikan.

"Senyawa pengganggu hormon seperi mikroplastik, dianggap sebagai hormon esterogenik sehingga dimungkinkan terbentuk lebih banyak ikan dengan jenis kelamin betina dibandingkan jantan. Sayangnya jantan inipun tidak bisa membuahi telur ikan bentina akibatnya terjadi penurunan populasi ikan," paparnya.

Dalam ekpedisinya, Tim ESN menemukan tumpukan sampah pada permukaan Sungai Musi yang didominasi sampah plastik sekali pakai.Sejalan dengan temuannya, bahwa mereka juga mendapati keluhan para nelayan dan penjual ikan yang mengeluhkan merosotnya jumlah ikan tangakapan dan ukuran ikan yang makin mengecil.

"Air sungai Musi menjadi muara dari puluhan anak-anak sungai di Sumatera Selatan (Sumsel). Tingginya aktivitas alihfungsi lahan di hulu, aktivitas tambang tanpa ijin, perkebunan sawit dan pencemaran industri menimbulkan pencemaran di Sungai Musi, padahal air Sungai Musi digunakan sebagai bahan baku air minum," kata Koordinator Telapak Sumsel, Hariansyah Usman.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa ekspedisi Sungai Musi bertujuan untuk melihat kadar polutan dan uji mikroplastik, selanjutnya disampaikan ke publik terutama bagi pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan lagi sumber bahan baku air bersih yang dikonsumsi jutaan manusia di Kota Palembang.

"Setidaknya ini bentuk kepedulian kita bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan terutama sumber air bersih (Sungai Musi). Jelas ini akan menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat Kota Palembang, di samping juga merosotnya populasi ikan air tawar serta endemik Sungai Musi," pungkasnya.