Home Sumbagsel Sampah Plastik Merek Terkenal Paling Banyak Ditemukan Mencemari Sungai Musi

Sampah Plastik Merek Terkenal Paling Banyak Ditemukan Mencemari Sungai Musi

Palembang, Gatra.com - Aliansi Peduli Sungai Musi bersama Tim Ekspedisi Sungai Nusantara, membeberkan sampah plastik yang paling banyak ditemukan di aliran Sungai Musi di Palembang, Selasa (19/7).

Aliansi Peduli Sungai Musi Palembang, yang terdiri dari para pencinta alam K9, Spora Institute, Telapak Sumsel dan Bem FISIP Unsri selain melakukan pengukuran terhadap kualitas komunitas air juga menggelar brand audit sampah di Sungai Musi. Aliansi ini didirikan karena melihat masalah yang terjadi di Sungai Musi, serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekspedisi sungai Nusantara yang dilakukan oleh Yayasan Ecoton.

Dari hasil pengukuran kualitas udara, beberapa parameter seperti klorin dan fosfat ditemukan sudah melebihi baku mutu sesuai PP Nomor 22 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kandungan klorin sebesar 0.18 ppm melebihi baku mutu sebesar 0.03 ppm, dan fosfat sebesar 0.70 melebihi baku mutu sebesar 0.2 ppm untuk sungai yang digunakan sebagai bahan baku air PDAM. Selain pengukuran kualitas, Aliansi juga melakukan brand audit atau melihat merk yang di temukan di sungai Musi.

"Dari brand audit di temukan produk dari perusahaan wing surya paling banyak di temukan, kemudian Unilever dan Indofood," beber Putri Ayu Miranda.

Banyaknya sampah yang ditemukan, salah satu penyebab rendahnya kesadaran masyarakat serta belum adanya fasilitas dan sistem pembuangan sampah yang baik, sehingga masyarakat banyak membuang sampahnya ke sungai Musi.

"Masyarakat juga perlu diberi pemahaman dan pemahaman tentang lingkungan agar sadar akan dampak yang ditimbulkan. Selain itu fasilitas tempat pembuangan sampah sementara yang memadai perlu disediakan oleh Pemerintah Kota Palembang," timpal Mulyana Santa.

Sampah yang dibuang ke sungai, akan terfragmentasi atau pecah menjadi serpihan mikroplastik, dari penelitan tim Aliansi Peduli Sungai Musi dan tim ESN menunjukkan bahwa partikel mikroplastik sudah ditemukan di sungai Musi dan ini berbahaya jika terkonsumsi.

Amirudin dari Tim ESN Yayasan Ecoton mengatakan, kalau kandungan klorin dan fosfat yang sudah ada di atas baku menunjukkan jika sungai Musi belum menjadi perhatian serius dari pemerintah pusat.

"Limbah industri dan aktivitas perkebunan yang ada di Sungai Musi, di mungkinkan menjadi penyumbang terbesar terjadinya pencemaran di sungai Musi," katanya.

Dari kegiatan tersebut, mereka berharap kepada pemerintah lebih serius dan memberikan sanksi yang tegas bagi industri yang memcemari Sungai Musi. Sungai Musi merupakan bahan baku air bersih PDAM Palembang, sehingga menjadi penting bagi kehidupan masyarakat Palembang.

"Produsen harusnya juga ikut bertanggung jawab atau EPR (Extended Producer's Responsibility) terhadap sampah yang mereka hasilkan sesuai dengan amanat UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah," Hariansyah Usman Koordinator Telapak Sumsel.

Melalui peraturan ini diharapkan pula Pemerintah Kota palembang, dan Provinsi Sumsel, dapat mendorong Produsen untuk ikut menyediakan fasilitas pengolahan sampah, sehingga bukan hanya masyarakat yang disalahkan dalam permasalahan sampah di Kota Palembang.