Home Nasional Netizen NKRI Paling Tidak Sopan Sedunia, Kader PKS: Medsos Jadi Ajang Konflik Dunia Nyata

Netizen NKRI Paling Tidak Sopan Sedunia, Kader PKS: Medsos Jadi Ajang Konflik Dunia Nyata

Yogyakarta, Gatra.com – Dari survei indeks kesopanan di dunia maya, warganet Indonesia diketahui memiliki tingkat kesopanan yang paling buruk. Warganet lebih berani di media sosial (medsos) karena menyembunyikan identitasnya.

Hal ini dinyatakan anggota Komisi I DPR RI Sukamta saat mengisi webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), ‘Etika Digital: Regulasi dan Tantangan Demokrasi’ Sabtu (30/7).

“Awalnya media sosial dihadirkan dengan desain bisnisnya menyukseskan konflik yang diciptakan antar-pengguna. Sekarang konflik itu tidak lagi dipicu media sosial, namun pengguna menjadikan media sosial sebagai ajang konflik dunia nyata,” kata politisi PKS ini.

Ironisnya, meski di dunia nyata orang Indonesia dikenal ramah, suka menolong, dan muda bekerjasama, pengguna internet Indonesia dikenal buruk dalam hal sopan santun bermedia sosial. Buruknya tingkat kesopanan warganet Indonesia mengungguli pengguna internet dari tiga negara, yakni Meksiko, Rusia, dan Afrika Selatan.

“Dalam Survei Digital Civility Index (DCI), indeks kesopanan orang Indonesia di 2020 naik 8 poin dibanding tahun sebelumnya menjadi 76 poin. Ini menempatkan Indonesia menjadi negara yang paling tidak sopan di 2020,” paparnya.

Buruknya kesopanan warganet Indonesia itu paling banyak didorong oleh pengguna dewasa yang menyumbang 83 persen dari total pengguna internet atau naik 16 persen dari data tahun sebelumnya. Sedangkan kontribusi pengguna kategori remaja dalam survei DCI tidak mengalami kenaikan sejak 2019 yakni 63 persen.

Tingkat risiko kesopanan digital di Indonesia paling besar dipengaruhi hoaks dan penipuan yang naik 13 poin menjadi 47 persen. Risiko ujaran kebencian naik dari lima poin menjadi 27 persen. Sedangkan risiko diskriminasi turun dua poin menjadi 13 persen.

“Netizen Indonesia dikenal berani melakukan berbagai tindakan yang tidak berani dilakukan di dunia nyata dengan menyembunyikan identitasnya. Karena jangkauan internet lebih luas, dampak yang dihasilkan akan lebih besar dan berbahaya,” tegasnya.

Besarnya bahaya itu, menurut Sukamta, terutama dalam konteks kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Ketika tidak ditangani dengan baik lewat literasi digital perpecahan di media sosial dapat berdampak pada perpecahan di dunia nyata dan mengancam NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, menyatakan, buruknya tingkat kesopanan di media sosial ini dipicu rendahnya tingkat literasi digital pengguna internet.

“Dari skala lima, indeks literasi digital pengguna internet Indonesia berada di poin 3,49. Angka ini belum menempatkan Indonesia dalam kategori baik,” katanya.

Untuk mengimbangi kecepatan tranformasi digital saat ini, program literasi digital Kominfo sudah menyasar 12 juta pengguna dan berpedoman pada empat pilar. “Pilar itu adalah kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan amanat digital. Program literasi digital ini tidak meninggalkan seorang pun,” ujarnya.

113