Home Ekonomi Dugaan Intervensi di Lelang Proyek Stasiun Rangkasbitung

Dugaan Intervensi di Lelang Proyek Stasiun Rangkasbitung

Jakarta, Gatra.com - Aroma tak sedap terendus di proyek pengembangan Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Lelang proyek pembangunan stasiun Rangkasbitung tahap satu, diduga bermasalah.

Menurut sumber Gatra di lingkaran Kementerian Perhubungan, pemenang lelang yaitu PT Phoenik Syams Indonesia, tidak berpengalaman dalam proyek bidang perkeretaapian. “Cek saja perusahaannya,” ujar sumber tersebut.

Phoenik memenangkan lelang proyek Stasiun Rangkasbitung tahap satu dengan penawaran sebesar Rp12,16 miliar. Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), proyek ini menggunakan APBN tahun anggaran 2022.

Satuan kerja (Satker) pelaksana proyek ini adalah Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta Dan Banten, Kementerian perhubungan. Adapun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pengambangan stasiun Rangkasbitung yaitu Alexander G. Manik, yang menggantikan M. Zaki Alam. Alexander terpilih pada 3 Januari 2022, sebulan sebelum proyek bergulir.

Salah satu peserta lelang, yaitu CV Sukapura sempat mengajukan sanggahan atas penetapan pemenang. Dalam sanggahan itu, CV Sukapura menerangkan beberapa kejanggalan dalam proyek stasiun Rangkasbitung. Salah satunya yaitu karena penggunaan materai Rp10.000, panitia mengeliminasi CV Sukapura.

Berdasarkan sumber Gatra tadi, PT Phoenik Syams Indonesia bisa memenangkan lelang diduga karena ada intervensi dari Direktur Prasarana Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Harno Trimadi. “(PT Phoenik) bawaan direktur,” ujar sumber tersebut.

Harno, ketika dikonfirmasi, mengatakan bahwa proses tender seluruh paket kegiatan pembangunan Stasiun Rangkasbitung ada di biro Layanan Pengadaan Dan Pengelolaan Barang Milik Negara (LPPBMN). “Bukan di direktorat jenderal perkeretaapian,” katanya kepada GATRA.

Harno sendiri adalah mantan kepala biro LPPBMN. Alumni ITB ini menjabat sejak 2019 sampai 2021, sebelum akhirnya menjadi Direktur Prasarana Perkeretaapian.

Harno juga membantah bahwa dirinya ikut cawe-cawe di proyek stasiun Rangkasbitung dan mengintervensi panitia untuk memenangkan PT Phoenik. “Saya sampaikan saya tidak pernah ikutan menitip-nitip proyek ke Satker,” ujarnya.

Menurut Harno, dirinya juga baru satu tahun di direktorat jenderal kereta api, sehingga belum mengenal banyak staf. “Apalagi saya di DJKA baru satu tahun per bulan Juli ini. Saya relatif tidak banyak mengenal staf,” ujarnya.

 

Perusahaan Palugada

PT Phoenik Syams Indonesia ibarat perusahaan palugada, "Apa lu mau, gua ada". Pasalnya, perusahaan ini memiliki banyak KBLI yang tidak saling berhubungan.

Berdasarkan dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kemenkumham, Phoenik memiliki 61 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Ada usaha industri makanan dan makanan olahan, industry percetakan, alat olahraga, sumber daya air, konstruksi Gedung, instalasi listrik, dah instalasi minyak dan gas.

Lalu ada KBLI tentang dekorasi interior, perdagangan besar binatang hidup, perdagangan beras, buah-buahan dan bidang perikanan. Selanjutnya, ada KBLI perdagangan besar pakaian, perdagangan obat, perdagangan besar computer, material bangunan, perdagangan eceran, pertamanan hingga jasa penyelidikan.

Masih dari dokumen Ditjen AHU, pemegang saham perusahaan yaitu Suhariyanti yang juga menjabat sebagai komisaris. Suhariyanti memegang 82% saham perusahaan. Sisanya saham sebesar 18% dipegang Dede Soip yang juga menjabat sebagai Direktur. Phoenik berkantor di Komplek Bekasi Town Square.

Dari penelusuran GATRA, Phoenik memang sering mengikuti tender proyek pemerintah. Berdasarkan Surat Penetapan Dan Pengumuman Pemenang No 413/SPPP/POKJA B/VIII/2021 yang dikeluarkan KONI DKI Jakarta Agustus tahun lalu, Phoenik pernah memenangkan tender pengadaan alat olahraga Aeromodeling.

Proyek berstatus tender ulang ini, dilakukan oleh KONI Provinsi DKI Jakarta. Nilai proyeknya, hampir Rp1 miliar. Pemenangnya, PT Phoenix Syams Indonesia.