Home Ekonomi Sektor Manufaktur On the Right Track, Ini Upaya Kemenperin Dukung Capaian Target

Sektor Manufaktur On the Right Track, Ini Upaya Kemenperin Dukung Capaian Target

Jakarta, Gatra.com - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa sektor manufaktur sudah on the right track. Hal itu ditunjukkan dengan dominasi produk-produk hilir pada struktur ekspor Indonesia.

"Seperti yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo pada pidato di Sidang Tahunan, kekuatan-kekuatan yang kita miliki merupakan modal kuat untuk membangun Indonesia, termasuk kemampuan hilirisasi dan industrialisasi untuk memaksimalkan nilai tambah bagi kepentingan nasional," katanya di Jakarta, Selasa (16/8).

Menurutnya, upaya-upaya yang telah ditempuh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan pertumbuhan investasi dalam dua tahun terakhir, bahkan hingga dua digit. "Ini cerminan kepercayaan dan harapan bahwa kita selangkah lebih dekat untuk menjadi kekuatan industri dunia. Saya percaya cita-cita dalam Making Indonesia 4.0 bahwa Indonesia masuk 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030 akan semakin terakselerasi," tegasnya.

Sektor industri nonmigas juga telah kembali tumbuh positif ke angka 6,91% pada tahun 2021, setelah pada triwulan II -2020 mengalami pertumbuhan minus -5,74%. Pada triwulan II – 2022, pertumbuhan industri adalah sebesar 4,33%. Namun demikian, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia terus berada di level ekspansif sejak November 2020 dan terus menguat sepanjang 2021 hingga saat ini, terkecuali Juli dan Agustus akibat merebaknya varian delta.

Ia menyebut, untuk mendukung capaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada tahun 2023, dibutuhkan daya ungkit yang optimal dari sektor manufaktur. Langkah-langkah prioritas Kemenperin dalam satu tahun ke depan antara lain penambahan komoditas untuk neraca komoditas yang didorong di tahun 2023.

"Ini penting untuk menjamin pasokan bahan baku atau bahan penolong dan mendukung nilai tambah dan hilirisasi di dalam negeri," ucapnya.

Kedua, perluasan penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk industri. Kebijakan HGBT telah terbukti mampu memperkuat resiliensi dan daya saing industri pengguna gas. Ini karena terjadi efisiensi terutama pada biaya operasional dan bahan baku industri pengguna gas.

Ketiga, mengintensifkan upaya peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Belanja APBN dan BUMN memiliki peluang untuk mengungkit lebih tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diperkirakan akan mendapat tambahan hingga 1,7%.

"Kemenperin terus mengawal dan mengintensifkan program ini. Dengan kondisi risiko global yang akan dihadapi, tidak bisa tidak, kita perlu menyatukan langkah dan bersama-sama menjaga sektor industri kita. Dalam kaitan dengan itu, kami juga akan mengintensifkan program sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)," kata Agus.

Keempat, Kemenperin mengintensifkan upaya revitalisasi industri melalui program-program, seperti pendidikan dan pelatihan vokasi, Making Indonesia 4.0, program nilai tambah dan daya saing industri, serta restrukturisasi mesin dan peralatan industri. Kemudian, lewat upaya penumbuhan dan pengembangan wirausaha baru yang juga diharapkan dapat naik kelas dengan memanfaatkan teknologi digital.

Melalui program Bangga Buatan Indonesia yang dicanangkan oleh Presiden pada tahun 2020, saat ini telah terjaring 19 juta IKM/UMKM dalam ekosistem digital dan ditargetkan mencapai 30 juta pada 2024. Upaya selanjutnya adalah partisipasi Indonesia sebagai partner country Hannover Messe 2023.

Kelima, Kemenperin ikut menjaga kinerja investasi melalui berbagai skema kemudahan dan insentif, seperti tax holiday dan tax allowance, serta memacu tumbuhnya kawasan-kawasan industri baru.

Keenam, meningkatkan ekspansi produksi yang ditempuh dengan penyederhaan bea masuk dan perijinan impor bahan baku utama industri. Penataan ulang ketersediaan infrastruktur pendukung logistik baik domestik maupun kebutuhan ekspor dan impor, dan penetapan kebijakan fiskal DTP untuk komoditas tertentu dengan pohon industri yang panjang dan nilai TKDN tinggi.

"Untuk poin terakhir, kami belajar dari pengalaman PPNBM-DTP sektor otomotif dan PPN-DTP sektor properti yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat," jelasnya.

Pagu indikatif Kementerian Perindustrian Tahun 2023 adalah sebesar Rp2,91 Triliun yang bersumber dari Rupiah Murni Rp2,49 Triliun, PNBP Rp150,08 Miliar, BLU Rp112,38 Miliar, dan SBSN Rp158,56 Milliar.

39