Home Ekonomi Peneliti Indef Ungkap Penyebab Investasi EBT RI Berjalan Lambat

Peneliti Indef Ungkap Penyebab Investasi EBT RI Berjalan Lambat

Jakarta, Gatra.com - Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya mengungkapkan alasan investasi sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia berjalan lambat. Salah satunya yaitu feed in tariff untuk EBT cenderung lebih rendah daripada tingkat global.

Feed in tariff adalah mekanisme kebijakan yang dirancang untuk mempercepat investasi teknologi energi terbarukan dengan menawarkan kontrak jangka panjang kepada produsen EBT.

"Investasi tidak terlalu masuk ke EBT karena harga beli PLN terhadap EBT terlalu murah, sementara di global best practice harganya di atas energi fosil sehingga mengundang investasi," ujar Berly dalam Diskusi Publik Indef secara virtual, Kamis (18/8).

Di sisi lain, kondisi excess supply atau kelebihan pasokan listrik terhadap permintaan, membuat penghapusan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara menjadi mahal. Terlebih, data PLN tahun 2022 menyebut tarif listrik di Indonesia lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya. Sehingga pendapatan PLN tidak cukup tinggi untuk menutupi biaya produksi listrik.

Berly menyarankan agar pemerintah perlu merancang formulasi subsidi EBT ke PLN, sama halnya seperti energi fosil.

"Perlu menaikkan feed in tariff EBT yang lebih tinggi dengan formulasi baku subsidi ke PLN untuk EBT. Jadi jangan sampai PLN dikasih tugas, tapi tidak dikasih dana," tuturnya.

Menurut Berly, perubahan skema finansial negara perlu dilakukan dalam hal memenuhi kebutuhan biaya transisi energi fosil ke EBT. Kebijakan lainnya secara teknis, pemerintah bisa menekan penggunaan energi fosil di sektor transportasi dengan melakukan elektrifikasi kendaraan umum maupun pribadi.

Berly menambahkan, distribusi listrik hasil EBT nantinya tidak harus berpusat di PLN. Sebab, di sebagian negara untuk distribusi hasil EBT sudah berbasis komunitas.

"Jadi bisa dijual langsung ke yang lain dan komunitas," imbuh Berly.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga Juni 2022, jumlah pelanggan pengguna EBT tenaga surya (PLTS) mencapai 5.848 pelanggan dengan total kapasitas 63,71 megawatt (MW).

Adapun capaian investasi PLT pelbagai EBT yang terdiri dari PLTA, PLTM, PLTMH, PLTS Atap dan PLTS hingga Juni 2022 sebesar US$379 juta tau 13,3 persen dari target investasi di tahun ini sebesar US$2,86 miliar.

177