Home Hiburan Sulitnya Seni Pertunjukan di Indonesia untuk Peroleh Cuan

Sulitnya Seni Pertunjukan di Indonesia untuk Peroleh Cuan

Jakarta, Gatra.com - Pegelaran seni musikal rupanya belum pernah mendatangkan untung bagi para pelakunya. Hal itu disebabkan oleh sejumlah kendala, salah satunya adalah tidak familiarnya masyarakat Indonesia terhadap dunia musikal.

"Ya mungkin karena memang belum familiar saja ya. Mungkin, untuk di Indonesia kayaknya musikal tuh masih sesuatu yang baru," tutur Pendiri EKI Dance Company Aiko Senosoenoto, dalam Seminar Festival Musik Indonesia bertajuk "Membuat Musikal yang Cuan", Minggu (21/8).

Menurut Aiko, hal itulah yang kemudian membuat pegelaran musikal masih belum bisa dengan mudah memperoleh sponsor. Padahal, pegelaran musikal membutuhkan biaya produksi yang besar, untuk menunjang para pemain, set panggung, penyutradaraan, penulisan naskah, musik, maupun pembentukan koreografi.

Hal tersebut seolah diamini oleh co-founder Artswara, Maera Panigoro. Ia pun menambahkan bahwa industri musikal di Indonesia saat ini belum terbentuk.

"Kalau dibilang cuan, masih jauh lah dari itu. Industrinya belum terbentuk," tukas Maera. Hal itu, menurutnya juga terjadi akibat tidak familiarnya pentas seni musikal.

Lebih lanjut, Maera menjelaskan, meski tiket pertunjukan musikal Artswara sering kali habis terjual, mereka tetap tidak dapat memperoleh cuan karena tak bisa menjual tiket dengan harga mahal.

"Ya memang penuh, tapi kita harus jualnya jadi cuman sekadarnya aja, gitu. Ya jangan sampai rugi lah, gitu," ujar Maera.

Sementara itu, Praktisi Komunikasi Markus R. A. Prasetyo mengatakan, untuk dapat memperoleh untung, pertunjukan seni musikal di Indonesia sejatinya perlu membentuk pasar penonton mereka.

"Pasarnya itu memang harus diciptakan," ujar pria yang akrab disapa Kepra itu. Hal tersebut, menurut Markus, dapat dicapai dengan membentuk kebiasaan untuk menonton seni pertunjukan sejak dini.

Terlebih, ia memandang bahwa tidak untungnya pegelaran pertunjukan musikal di Indonesia terjadi akibat kecenderungan audiens yang tidak suka menonton suatu pertunjukan secara berulang. Di mana, menurutnya, kecenderungan tersebut dapat dibangun dari kebiasaan tadi.

Menanggapi kondisi tersebut, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta Gumilar Ekalaya mengatakan bahwa bertahan atau tidaknya para penyelenggara seni pertunjukan memang tak dapat lepas dari peran pemerintah.

Gumilar pun menyebutkan, bahwa sejumlah instansi, khususnya dalam konteks DKI Jakarta, seperti Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, ataupun Dinas Pendidikan, sesungguhnya memiliki kewajiban mengembangkan dan membina seni budaya serta kreativitas masyarakat.

"Justru kita juga pingin banget nih, dapat insight dari para pelaku (seni)," ujar Gumilar dalam seminar yang sama.

Ia mengatakan, pemerintah memerlukan insight atau pandangan terkait langkah yang harus mereka lakukan untuk mendukung pegelaran seni pertunjukan tersebut agar dapat memperoleh untung di samping berbagai kendala yang harus dihadapi oleh para pelaku seni tadi.

Gumilar pun menyebut pihaknya membuka peluang untuk berkolaborasi dengan para pelaku seni. Menurut Gumilar, pihaknya memang berkewajiban untuk mendukung keberlangsungan pertunjukan seni di Indonesia.

Gumilar juga berharap, seluruh sektor dari ekonomi kreatif dapat terus berkembang di masa mendatang. Tak terkecuali seni pertunjukan, yang disebutnya sebagai sektor yang paling jarang disentuh, dibanding 16 sektor ekonomi kreatif lainnya.

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR