Home Teknologi Founder Startup Ini Berbagi Pandangan tentang Kiprah Wanita di Industri Teknologi

Founder Startup Ini Berbagi Pandangan tentang Kiprah Wanita di Industri Teknologi

Jakarta, Gatra.com — Momentum perayaan HUT Kemerdekaan memberi tafsir akan pentingnya kemerdekaan di berbagai bidang. Termasuk kebebasan untuk mengekspresikan diri dan mendapatkan kesempatan yang sama terlepas dari perspektif gender. Membahas kesetaraan gender, kemajuan dan perbaikan merupakan proses panjang yang melibatkan berbagai pihak pada ekosistem terkait.

Acara “Women with Impact, East Ventures” memfasilitasi diskusi dan sesi networking pada 16 Agustus untuk mendukung para startup yang dipimpin wanita di ekosistem teknologi dalam menavigasi tantangan yang dihadapi beserta peluang di industri teknologi. Acara dihadiri oleh investor, founder startup, dan penyedia solusi teknologi.

Para pembicara memberikan perspektif yang berbeda berdasarkan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing, terutama dalam memberikan gambaran dari situasi yang dihadapi dan pengalaman praktis di industri teknologi. Sebuah studi pada 2020 yang dilakukan Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa industri teknologi Asia Tenggara cukup beragam, dengan 32% perempuan dari tenaga kerja sektor teknologi.

Namun, bukan rahasia lagi bahwa hanya sebagian kecil startup di kawasan ini yang memiliki founder perempuan. Selain itu, perusahaan think tank fintech global, Findexable, mengungkapkanhanya satu persen founder perempuan di industri fintech yang menerima pendanaan secara global pada 2021.

Sebagai founder perempuan pertama dalam membangun fintech unicorn di Indonesia, Tessa Wijaya, Co-Founder & COO Xendit, berbagi pengalaman dan perspektifnya tentang perjuangan dan pembelajaran membangun startup dari awal.

Sebagai seorang founder perempuan, ia menyadari sangat sulit untuk membangun network untuk mengembangkan bisnisnya saat itu. Memiliki network sangat penting dalam membantu para founder untuk memahami hal sederhana seperti membuat deck, pitching, penggalangan dana, atau memperluas bisnis.

Ia menemukan bahwa founder perempuan terkadang merasa tertinggal dibandingkan dengan founder laki-laki, lantaran tidak ada platform yang memfasilitasi founder perempuan berbagi dan belajar dari satu sama lain. Tessa juga menyebutkan tantangan dalam memeroleh bimbingan, karena hanya ada beberapa pemimpin wanita yang dapat dihubungi untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan penggalangan dana, pitch deck, dan valuasi perusahaan.

“Kekuatan network sangat penting. Tanpa dukungan sesama wanita, saya tidak dapat saling berkolaborasi dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan bisnis,” kata Tessa.

Sementara itu, Veronica Colondam, Pendiri dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation dan YCAB Ventures sepakat bahwa network dan dukungan dari rekan penting untuk perkembangan founder perempuan, dan membantu mereka mengembangkan bisnis.

Karena itu, Veronica terus aktif membuat inisiatif yang berdampak untuk membantu pengusaha perempuan di Indonesia selama 25 tahun terakhir. Ia mengikuti panggilan untuk mendirikan yayasan YCAB dan YCAB Ventures, bergabung sebagai anggota dewan di program mentorship – Asian Venture Philanthropy Network (AVPN), dan Komisaris Independen di perusahaan keuangan mikro milik negara (Permodalan Nasional Madani – PNM) terbesar, dengan fokus pada investasi ultra mikro dan perempuan.

Veronica mengatakan, perempuan dan dampak hanyalah istilah antara dua dunia yakni sektor dampak dan sektor keuangan. “Artinya jika apa yang Anda lakukan berdampak, maka hal tersebut merupakan hal yang hebat, itulah tujuan Anda. Tapi ingat dampaknya bagi umat manusia yang paling kecil, bagi semua orang hingga ke garis terbawah,” kata Veronica.

“Di dasar piramida. Apa yang dapat Anda lakukan melalui bisnis Anda untuk benarbenar meningkatkan kesejahteraan mereka,” ia menambahkan.