Home Teknologi Ancaman Siber Mengganas, Keamanan Siber Jadi Keharusan

Ancaman Siber Mengganas, Keamanan Siber Jadi Keharusan

Jakarta, Gatra.com - Ancaman siber saat ini semakin besar, pintar, dan berbahaya. Bahkan, serangan tersebut memiliki bentuk yang semakin beragam. Beberapa di antaranya yaitu malware, ransomware, ataupun DDos attack. 

Tak hanya itu, target serangannya pun menjadi semakin luas tak terbatas, dan menyentuh baik instansi, perusahaan, bahkan hingga institusi pemerintahan.

Sebagaimana dilaporkan dalam laporan tahunan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bertajuk “Monitoring Keamanan Siber Tahun 2021”, ada lebih dari 1,6 miliar anomali trafik serangan siber yang terjadi di seluruh Indonesia sepanjang 2021 silam.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga mencatat adanya 6 juta data penduduk Indonesia yang bocor pada Januari 2022 silam, dan dijual di forum gelap oleh oknum tak bertanggung jawab.

CEO PT Dewaweb Edy Budiman menyebut pentingnya keamanan untuk menjadi komponen utama esensial bagi setiap organisasi untuk dapat mencapai tujuan mereka.

"Jadi bukan suatu pilihan lagi, tapi menjadi keharusan, mandatory, esensial, fundamental," ujar Edy Budiman dalam acara peluncuran layanan keamanan siber Dewaguard di Jakarta, Selasa (23/8).

Ia menegaskan bahwa tak ada satu pun perusahaan yang aman dari potensi serangan siber. Menurutnya, setiap organisasi perlu senantiasa memastikan jaringan serta aplikasi mereka bisa aman dari serangan-serangan siber yang ada.

Sayangnya, Edy justru memandang instansi-instansi di Indonesia sebagai sasaran empuk. Ia pun memaparkan, ada empat faktor penyebab di balik banyaknya insiden serangan siber di Indonesia.

Keempatnya adalah perbedaan kemampuan keamanan siber, kompleksitas aplikasi suatu perusahaan yang justru menciptakan lebih banyak celah untuk diretas, rendahnya kesadaran anggota tim dalam suatu perusahaan, serta tingginya biaya di samping minimnya anggaran perusahaan untuk berlangganan layanan keamanan siber.

“Tidak semua lapisan, mungkin yang ngerti cyber security hanya tim IT-nya aja mungkin,” lanjut Edy. Ia menggarisbawahi rendahnya kesadaran tim di suatu perusahaan sebagai salah satu faktor yang mendasari terbentuknya celah yang dapat dimasuki ancaman-ancaman siber tadi.

Padahal, kesadaran tadi juga ia ingatkan sebagai suatu cara paling fundamental untuk mencegah terjadinya serangan siber. 

“Setiap komponen perusahaan ataupun organisasi, dari level yang paling bawah sampai yang paling tinggi, semuanya harus aware, ancaman-ancaman cyber security itu apa saja, pengamanannya seperti apa,” ujar Edy dalam acara tersebut.

Tak hanya itu, Edy juga memandang penting bagi setiap tim IT dari suatu perusahaan untuk menerapkan kontrol keamanan terhadap jaringan maupun aplikasi siber yang terkait dengan perusahaan. Hal tersebut, seperti Edy katakan, dapat menjadi salah satu upaya dalam mencegah terjadinya serangan siber.

Diketahui, dalam acara tersebut, PT Dewaweb melakukan peluncuran sebuah penyedia layanan keamanan siber Dewaguard. Layanan tersebut beroperasi selama 24 jam nonstop dalam melakukan pemantauan (monitoring), merespons insiden (incident response), dan melakukan operasi intelijen terhadap ancaman (threat intelligence operation). Dengan peluncuran tersebut, Dewaweb telah ambil andil dalam meningkatkan kualitas keamanan siber di Indonesia.