Home Gaya Hidup Rumah Tutur, Budaya Story Telling, Lokomotif Baru Industri Kreatif

Rumah Tutur, Budaya Story Telling, Lokomotif Baru Industri Kreatif

Jakarta, Gatra.com – Upaya menggerakkan ekonomi kreatif terus dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dengan beragam cara. Terbaru, Kemenparekraf berkolaborasi dengan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN)—Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan—mendirikan Rumah Tutur untuk komunitas pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.

Rumah Tutur tersebut memanfaatkan aset negara berupa gedung lama di Jalan Panglima Polim Raya Nomor 20, Jakarta Selatan. Sejak 1 Desember 2021, Rumah Tutur secara resmi dikelola Pemerintah melalui Kemenparekraf dengan jangka waktu pemanfaatan lima tahun. Rumah Tutur diharapkan akan menjadi lokomotif penggerak ekonomi kreatif sekaligus pusat ekosistem industri kreatif.

Ke depan, Rumah Tutur akan difungsikan sebagai pusat workshop, inkubasi, dan edukasi masyarakat untuk pengembangan industri kreatif. Direktur Aplikasi, Permainan, TV, dan Radio Kemenparekraf, Syaifullah Agam menyatakan, keberadaan Rumah Tutur akan mendigitalisasi cerita rakyat, pasar tutur (UMKM marketplace) dan ekosistem kreatif lainnya.

“Gedungnya (Rumah Tutur) dikasih Kementerian Keuangan. Lalu kita bikin pilot project dengan membangun creative space atau creative hall yang bisa menjadi tempat pengembangan kreativitas secara mandiri,” kata Syaifullah Agam ketika diwawancara Gatra.com di kawasan Senayan, Jakarta pada Selasa (23/8).

Keberadaan Rumah Tutur diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan aset negara untuk mendukung pemberdayaan ekonomi kreatif secara jangka panjang. “Jadi kita membikin skema supaya ada creative space yang mendorong ekosistem ekonomi kreatif tumbuh. Tapi [pengelolaannya] bisa berjalan secara mandiri. Zaman dulu kan banyak ruangan creative space tapi begitu selesai mati,” ujarnya.

Salah satu target yang dibidik dari keberadaan Rumah Tutur yakni membudayakan ekosistem story nomics yang akhirnya mendorong penciptaan Hak Kekayaan Intelektual dan inkubasi kreatif dalam mengembangkan produk unggulan. Penamaan Rumah Tutur juga didasarkan pada fondasi kuat bangsa Indonesia yang lekat dengan budaya lisan.

“Kenapa sih namanya Rumah Tutur? Tutur itu kan bercerita, di Indonesia itu kuat banget seni bertutur. Wayang itu seni bertutur, gurindam, pantun, hampir semua seni bercerita. Tapi itu kan udah hampir hilang, siapa sih yang suka wayang, paling orang-orang lama,” Syaifullah menjelaskan.

Karena itu, pihaknya berinisiasi membangun komunitas yang membudayakan seni bertutur. “Seni bertutur kita banyak, masing-masing daerah punya. Tradisi itu kita angkat dalam program The House of Story Telling atau Rumah Bercerita. Jadi, kita mau angkat cerita-cerita yang kuat dari daerah, atau Urban Legend yang bisa membantu menjaga karakter bangsa,” ucapnya.

Dalam waktu dekat, Kemenparekraf bekerja sama dengan Pemkot Jaksel akan menyelenggarakan kegiatan “Jaksel Mendongeng” pada September mendatang. Kegiatan tersebut akan menyasar peserta dari tingkat PAUD, TK, hingga SD untuk mendongeng dan bercerita di depan umum. Selain mendongeng, kegiatan turut diisi dengan lomba menggambar dan mewarnai.

Direktur AXI Teguh Santoso bersama Direktur Aplikasi, Permainan, TV, dan Radio Kemenparekraf Syaifullah (Ist/ Astragraphia)

Untuk menyukseskan agenda tersebut, Kemenparekraf berencana menggandeng PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) untuk layanan cetak 3D (3D Printing). Penggunaan teknologi 3 D, Syaifullah melanjutkan, dapat menyokong ide dan kreativitas dari pelaku usaha ekonomi kreatif. “Misalnya, bagaimana mendeskripsikan si Pitung, ada model 2D ada yang 3D, terus nanti dia akan menceritakan karakter (Pitung) tadi,” kata Syaifullah.

Ia menyebut, suatu pesan akan mudah tersampaikan bila direkam dalam bentuk visual. Pengisahan cerita akan kuat bila dilengkapi penyajian gambar atau sejenisnya. “Persoalannya kita enggak pernah menjadikan imajinasi itu dalam bentuk visual. Kalau konseptual susah untuk meyakinkan mereka. Jadi, kalau anak kecil bercerita, ibunya di samping, dia bisa ngomong,” Syaifullah menambahkan.

Menurutnya, 3D Printing menjadi salah satu teknologi unggulan yang diadopsi Indonesia di era Revolusi Industri 4.0. Pemanfatannya dapat diberlakukan secara luas di ekosistem industri kreatif mulai dari permainan, film, kriya, kuliner, hingga arsitektur. Bahkan, teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk promosi wisata.

“Untuk showcase, misalnya Borobudur dijual [dipromosikan]. Apakah di scanning, dibikin 3D Printing, kan keren. Bisa jadi jualannya teman-teman di sana. Jadi ini membantu UMKM dan masyarakat sekitar untuk jualan,” pungkasnya.