Home Pendidikan Bukti Kebesaran Kerajaan Melayu, Candi Pulau Sawah Perlu Digali Lebih Jauh

Bukti Kebesaran Kerajaan Melayu, Candi Pulau Sawah Perlu Digali Lebih Jauh

Dharmasraya, Gatra.com - Candi jadi salah satu bukti sejarah dan jejak kebesaran Kerajaan Melayu Dharmasraya. Dua kompleks candi paling terkenal di Dharmasraya adalah Candi Pulau Sawah dan Pulau Roco.

Dua kompleks candi itu dikaitkan dengan seorang bangsawan Majapahit keturunan Dharmasraya yang bernama Adityawarman, sepupu dari Raja Majapahit kedua, Sri Jayanegara. Candi Pulau Sawah diperkirakan dibangun oleh kakek atau ayah dari Adityawarman, penguasa dari Kerajaan Melayu yang merupakan anak dari Dara Jingga.

“Bangunan-bangunan candi ini mungkin didirikan oleh kakeknya atau bapaknya dari Adityawarman,” ujar Dosen Arkeolog Universitas Jambi, Wahyu Rizky Andhifani dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Kamis (25/8).

Ia menjelaskan, selain digunakan untuk kegiatan keagamaan, kompleks Candi Pulau Sawah ini juga digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat kerajaan melayu. Menurut catatan para arkeolog, masih sangat banyak candi yang terdapat di sekitar kompleks Pulau Sawah. Sayangnya, keterbatasan dana dan tenaga ahli membuat candi tersebut masih tersimpan di dalam tanah.

Pengunjung harus melewati perjalanan dan masuk ke persimpangan di daerah Sikabau kemudian menuju ke Nagari Siguntur untuk bisa mengunjungi Candi Pulau Sawah ini. Kemudian, menelusuri jalan dan terus lurus sampai menemukan daerah yang bernama Pulau Tongah.

Para pengunjung harus bisa memanfaatkan perahu yang terdapat di itu sana untuk bisa melanjutkan perjalanan. Hal ini akan membuat perjalanan menjadi menarik karena para pengunjung juga bisa menikmati pesona pemandangan alam yang terdapat di sepanjang aliran Sungai Batanghari sampai akhirnya sampai ke lokasi Candi pulau Sawah ini.

Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan mengungkapkan bahwa proses pemeliharaan terhadap kompleks candi di Dharmasraya terus berjalan. Termasuk pembangunan museum di kompleks candi pulau sawah.

“Kita nunggu proses pemugaran museum dari Menteri PU, Dirjen Cipta Karya. Karena masih terkendala pandemi tapi insyaallah tahun 2023 nanti,” katanya.

Menurut Sutan, Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi di Dharmasraya punya misi penting untuk meluruskan sejarah yang menurutnya merupakan misi ketiga dari pancasila yakni Persatuan Indonesia. “Ketika memasuki dunia global dan era digital, maka budaya peradaban adat kita tidak boleh hilang. Maka dari itu, semangat Pamalayu menjadi kekuatan untuk destinasi wisata baru di Jambi dan Sumbar,” ujarnya.