Home Regional Belajar Sejarah dengan Datang Langsung ke Situs “Majapahit” Trowulan

Belajar Sejarah dengan Datang Langsung ke Situs “Majapahit” Trowulan

Mojokerto, Gatra.com -- Perjalanan menuju ke Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam 11 menit dari pusat Kota Surabaya, Jawa Timur. 

Dengan waktu yang relatif singkat itu akan melewati beberapa kota kabupaten; Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto. 

Karena kota atau kabupaten ini merupakan pusat-pusat industri di Jawa Timur, perjalanan keluar kota Surabaya dan masuk Sidoarjo harus melawan macet dan juga “adu cepat” melawan bus kota antar provinsi dan truk truk besar.

Jalan di area Sidoarjo menuju Mojokerto terbilang bagus. Beberapa area laluan kendaraan besar itu bahkan cukup enak untuk dibuat kebut-kebutan. 

Kamis pagi sekitar pukul 10:00, memutar tuas gas motor sampai speedo meter menunjukkan angka 80 km/jam ke atas bisa saja dilakukan, tetapi tentu saja itu hal yang kurang bijaksana mengingat lawannya adalah kendaraan berukuran raksasa. 

Meski, jalan yang masuk area Sidoarjo tepatnya di Kecamatan Balungbendo itu bisa dibilang relatif lengang. Besi-besi beroda itu cenderung berjalan pelan. Menghindarinya pun tak sulit.

Masuk ke area Kabupaten Mojokerto, jika tujuannya adalah Trowulan, yang harus dilakukan adalah mengikuti jalan bay pass Mojokerto. Alternatifnya, bisa saja menyimpang dan masuk area Kota Mojokerto terlebih dahulu untuk melihat-lihat kondisi kota atau mampir membeli perbekalan. 
Akses menggunakan kendaraan umum untuk menuju Trowulan mungkin saja ada. Hanya saja ketika melintasi jalan menuju Kecamatan tersebut, minim sekali pemandangan angkutan umum. Yang banyak dijumpai hanyalah bus langsung jurusan Surabaya Trenggalek.

Pertanda bahwa telah sampai di area Trowulan adalah pemandangan rumah-rumah di kiri kanan jalan yang menggunakan bata merah dan disusun dengan aksen kerajaan. Penanda jalan dipenuhi dengan petunjuk tujuan wisata area sekitar. 

Untuk menuju lokasi Museum Trowulan, dari jalan utama yang dilalui dan sebelum kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya, aka nada lampu lalu lintas dan selanjutnya harus belok kiri. Melaju beberapa ratus meter dari lampu merah tersebut, saat sudah bertemu dengan kolam yang dipagari dengan bintang simbol kerajaan Majapahit, terdapat sebuah gedung besar tempat menyimpan koleksi peninggalan bersejarah: Museum Trowulan.

Museum Trowulan dari Masa ke Masa

Museum Trowulan terletak berseberangan dengan Kolam Segaran. Kendati tak setua koleksinya, sejarah dari Museum Trowulan sendiri tidak bisa dibilang singkat. 

Museum arkeologi yang menyimpan koleksi peninggalan kerajaan Majapahit terbesar ini berawal ketika Bupati Mojokerto R.A.A. Kromodjojo Adinegoro pada 24 April 2024 menggandeng seorang arsitek Belanda Ir. Henry Mcline Pont untuk mendirikan Oudheeidkundhige Vereeneging Majapahit (OVM).

Istilah terakhir merujuk pada sebuah perkumpuan yang bertujuan untuk meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit. OVM menempati sebuah rumah di salah satu Situs Trowulan yang terletak di jalan raya jurusan Mojokerto – Jombang km.13.

Rumah tersebut digunakan sebagai markas penyimpanan artefak-artefak yang diperoleh baik melalui penggalian, survei, atau bahkan melalui penemuan yang tidak disengaja. Menyadari akan banyaknya koleksi artefak yang layak untuk dipamerkan, direncanakanlah untuk membangun sebuah museum yang terealisasi pada 1926 dan dikenal sebagai Museum Majapahit. 

Selang 16 tahun, pada 1942 museum tersebut ditutup untuk umum karena Mcline Pont ditawan oleh Jepang dan pengeolalan museum pun diambil alih pemerintah.

Setelah Indonesia meredeka, Museum Trowulan dikelola Lembaga Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) di bawah kendali Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Timur. Selain mengelola museum, lembaga tersebut melakukan perlindungan benda purbakala di seluruh wilayah Jatim dengan sebutan balai Penyelamatan Arca, tetap masyarakat mengenalnya dengan nama Museum Trowulan. Pada 1999 jumlah koleksi semakin banyak dari hasil pemindahan dan penggabungan koleksi Gedung Arca Mojokerto dengan Museum Trowulan.

Pada 3 November 2008, Balai Penyelamatan Arca atau Museum Trowulan diubah menjadi Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jero Wacik. Pemilihan nama tersebut didasari peningkatan kebutuhan masyarakat terkait informasi Majapahit baik peneliti maupun masyarakat umum. 

PIM didirkan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tersebut secara terpadu berupa data tertulis, digital, gambar, maupun peninggalan pada zaman Majapahit. Meski nama dan bentuk kegiatannya telah mengalami perubahan dan perkembangan, tetapi funsgi dan tujuan dasarnya masih tetap sebagai museum dan Balai Penyelamatan Benda Cagar Budaya Jawa Timur.

Diklasifikasi menurut bahannya, koleksi PIM mencakup koleksi tanah liat (terakota) yang meliputi terakota manusia (figure), alat-alat produksi, alat rumah tangga, dan arsitektur. Selain terakota, terdapat juga koleksi keramik yang meliputi teko, mangkok, guci, piring, vas, dan sendok yang berasal dari Cina, Thailand, dan Vietnam. 

Selanjutnya ada koleksi yang termasuk dalam kategori logam antara lain meliputi uang kuno, pedupaan, guci, lampu, genta, gamelan, dan lainnya. Selain itu terdapat koleksi berbahan dasar batu yang terdiri dari minatur dan komponen candi, koleksi arca, relief, serta koleksi prasasti.

Tak banyak pengunjung yang memilih hari kerja sebagai waktu kunjungan. Pada Kamis (25/08) hanya beberapa orang saja yang ‘mematung’ memandangi secara seksama koleksi museum Majapahit itu. Siang hari, empat bus rombongan siswa-siswi SMA datang dan mulai memadati museum Majapahit.

Di sekitar museum, banyak situs-situs bersejarah lain yang menjadikannya disebut sebagai Situs Tworulan. Tak jauh dari Museum Majapahit Trowulan, terdapat beberapa candi seperti Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Pendopo Agung Trowulan, Kolam Segaran, Kompleks Makam Troloyo, juga Candi Wringin Lawang. 

Pada akhir Agustus 2013, Situs Trowulan telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK Menteri pendidikan dan Kebudayaan RI No. 260/M/2013.
Menyusuri area Trowulan memang dapat memantik imajinasi pengunjungnya dan merasa sedang berada di tengah kota besar, kerajaan Majapahit.

270