Home Kesehatan RSUD HAMS Jadi Rujukan Empat Daerah

RSUD HAMS Jadi Rujukan Empat Daerah

Kisaran, Gatra.com- Wajah Susanti terlihat pucat karena baru banyak kehilangan darah saat operasi caesar.
Sambil duduk di kursi di depan kamar VIP tempat dia di rawat, dia gembira menatap wajah anak keduanya yang sedang berada di dalam stoler baby, yang lagi dijemur matahari pagi oleh paramedis. 
 
Warga kabupaten Labura ini sudah empat hari  di rawat inap di RSUD H.Abdul Manan Simatupang (HAMS), Kisaran, Sumatera Utara. Empat malam yang lalu,
dia harus dilarikan ke RSUD HAMS untuk mendapatkan pertolongan medis karena mengalami sakit yang luar biasa pada kandungannya. 
 
"Tengah malam saya dilarikan kemari. Karena sudah post date, "ujarnya. 
 
Ini merupakan operasi kedua kalinya. Tiga tahun yang lalu, dia juga menjalani caesar anak pertamanya  di rumah sakit yang sama. "Pelayanannya baik, dokternya lengkap,dan cepat tanggap," kata dia. 
 
Ternyata Susianti bukan menjadi satu-satunya pasien luar daerah yang sedang menjalani perawatan di RSUD HAMS. Menurut data RSUD HAMS Kisaran, jumlah pasien luar daerah yang dirawat inap ini terus bertambah.
 
Dalam dua tahun terakhir, dari tahun 2020-2021, terdapat 2,456 pasien rawat inap yang berasal dari luar daerah. Jumlah ini hampir mencapai 15% dari jumlah total pasien rawat inap dalam dua tahun terakhir yang mencapai 16,673 pasien. Tingginya angka itu belum termasuk jumlah kunjungan pasien rawat jalan yang berasal dari luar daerah.  
 
Direktur RSUD HAMS Kisaran, Dr Kurniadi Sebayang, Sp.An MSi, menyebutkan, setiap tahun jumlah kunjungan pasien luar daerah  yang dirawat di RSUD HAMS mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan, rata-rata pertahunnya  bisa mencapai antara 15-20% dari jumlah pasien yang dirawat inap.
 
Kurniadi menyebutkan, saat ini RSUD HAMS seolah-olah menjadi rujukan dari sejumlah kabupaten/kota.  Padahal, rujukan pasien dari luar daerah, seharusnya ke RSUD bertipe B, sedangkan  RSUD milik Pemkab Asahan tersebut masih hanya berstatus tipe C. "Saya menyebutnya sebagai RSUD  bertipe C tapi berasa RSUD bertipe B,"ujar Kurniadi, Jumat (26/8) lalu. 
 
Ia menyebut, pasien umumnya berasal dari Labuhan Batu, Labura, kota Tanjung Balai, dan kabupaten Batubara. Meski begitu, Kurniadi menegaskan, tidak ada istilah menolak pasien.
 
"Kalau ada perawat yang menolak pasien karena alasan tidak ada kamar, saya tindak tegas. Tidak boleh, ini kan menyangkut nyawa, menyelamatkan jiwa orang, bagaimana pun harus diupayakan, kecuali sudah tidak memungkinkan lagi,"ujarnya. 
 
Kurniadi mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan upaya perbaikan. Termasuk memperluas lokasi di tempat baru. 
 
Rancangan untuk RSUD modern ini sudah mulai dipersiapkan, termasuk fasilitasnya. Kurniadi memprediksi, jika rencana pembangunan RSUD modern ini terealisasi, RSUD HAMS bukan hanya menjadi RSUD rujukan bagi empat kabupaten/kota, tapi akan menjadi RSUD rujukan dari 33 kabupaten/kota di Sumut.
 
" Untuk membantu RSUD pemerintah provinsi dalam memberikan fasilitas pelayanan kesehatan di Sumatera Utara. Ini target kita," ujarnya.