Home Lingkungan Di Pulau Dewata, Administrator Badan Perlindungan Lingkungan AS Bertemu Pejuang Lingkungan

Di Pulau Dewata, Administrator Badan Perlindungan Lingkungan AS Bertemu Pejuang Lingkungan

Badung, Gatra.com – Administrator Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US Environmental Protection Agency/EPA) Michael S. Regan bertemu para mitra sektor swasta, aktivis kepemudaan, dan pemangku kepentingan lainnya di fasilitas pengelolaan sampah PT Reciki Solusi Indonesia (Reciki) di Jimbaran, Bali.

Kunjungan tersebut untuk melihat langsung bagaimana perusahaan bekerja secara inovatif untuk mengatasi tantangan pengelolaan sampah di Indonesia. Administrator Regan berada di Indonesia dalam rangka menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 pada 31 Agustus di Bali.

Sebagai sebuah perusahaan pengelolaan sampah milik swasta dengan dua fasilitas pengolahan, Reciki siap memperluas operasinya dengan pendanaan dari perusahaan manajemen investasi Circulate Capital melalui dana kelola Circulate Capital Ocean Fund (CCOF). Investasi tersebut difasilitasi lewat jaminan pinjaman yang diberikan oleh US International Development Finance Corporation (DFC) bekerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID).

Pendanaan dari Ocean Fund memungkinkan Reciki membangun beberapa fasilitas baru di Jawa Timur dan Bali pada tahun mendatang. “Masyarakat di seluruh dunia telah berkutat mengatasi dampak dari tantangan pengelolaan sampah, tetapi kunjungan saya menunjukkan bahwa solusinya ada dalam genggaman kita,” kata Michael S. Regan.

Regan mengungkapkan kebanggaannya bekerja sama dengan mitra strategis Indonesia beserta sektor swasta dan generasi baru pemimpin lingkungan. “Kami dapat memajukan solusi inovatif ini dan membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih kuat, lebih tangguh, dan hemat biaya. yang melindungi manusia dan planet kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Regan berkeliling di fasilitas pengelolaan sampah (material recovery facility) bersama CEO Reciki Bhima Aries Diyanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kebupaten Badung I Wayan Puja dan Direktur Sustainable Development Danone Indonesia Karyanto Wibowo, Administrator Regan mengikuti kegiatan dengan alumni program pertukaran budaya Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) dari Departemen Luar Negeri AS dan peserta Reciki Youth Program.

CEO Reciki Bhima Aries Diyanto mengatakan, tujuan dari kunjungan adalah untuk berbagi realitas terkait pengumpulan sampah. Operator menurutnya membutuhkan dukungan yang jauh lebih besar dari pemerintah daerah dalam menegakkan peraturan, pendidikan berkelanjutan di sekolah dan di rumah seputar pemisahan sampah, serta dukungan berkelanjutan dari LSM mitra.

“Sektor korporasi juga membutuhkan keterlibatan yang lebih besar – hal ini tidak bisa diserahkan kepada satu atau dua perusahaan saja. Pengelolaan sampah adalah permasalahan semua orang,” kata Bima.

Acara di Reciki juga diikuti oleh perwakilan dari perusahaan swasta Danone Indonesia yang merupakan co-investor awal Circulate Capital Ocean Fund. Danone-AQUA berinvestasi dalam fasilitas pengolahan sampah di Bali dan bekerja sama dengan LSM dan mitra seperti Reciki untuk mengedukasi masyarakat dan pemuda. Perusahaan juga berkomitmen terhadap ekonomi sirkular, dengan menggunakan plastik yang didaur ulang yang dihasilkan Reciki dalam berbagai produknya.

Direktur Sustainable Development Danone Indonesia Karyanto Wibowo menyatakan, pihaknya bertekad mendorong ekosistem ekonomi sirkular salah satunya dengan kampanye #BijakBerplastik [Gunakan Plastik dengan Bijak].

“Beberapa botol Danone-AQUA sudah mengandung hingga 25 persen PET daur ulang. Komitmen jangka panjang kami adalah merancang kemasan plastik inovatif yang 100 persen dapat didaur ulang. Dan hal ini sejalan dengan upaya kami terkait pendidikan masyarakat,” kata Karyanto.

Program Ocean Fund dari Circulate Capital berinvestasi dalam proyek tahap awal yang berdampak besar di sektor daur ulang dan pengelolaan limbah untuk mengurangi plastik di lautan dan memerangi degradasi lingkungan di wilayah Asia Selatan dan Tenggara. US Development Finance Corporation mendanai hingga 35 juta dolar dalam bentuk investasi pinjaman untuk penjaminan portofolio pinjamannya, sebuah proyek kolaborasi dengan USAID.