Home Politik 23,7% Pemilih Gerindra Bakal Beralih Pilih Partai Ini

23,7% Pemilih Gerindra Bakal Beralih Pilih Partai Ini

Jakarta, Gatra.com- Riset SMRC menemukan adanya kecenderungan bagi pemilih Partai Gerindra pada Pemilu 2019 silam, untuk berpaling dan memilih partai politik lain pada Pemilu 2024 mendatang. Hal itu pun membuat posisi Gerindra untuk "merebut" kursi di Senayan pun menjadi kurang stabil.

Hal itu disebutkan dalam temuan lembaga riset SMRC. Dalam temuannya itu, disebutkan bahwa sebanyak 62,7% pemilih Partai Gerindra akan memilih partai itu lagi pada Pemilu 2024 mendatang. Sebanyak 13,5% tercatat masih belum menentukan pilihan mereka nanti.

Sementara 23,7% sisanya adalah jumlah pemilih yang sudah memutuskan untuk berpaling. Lebih jauh, riset itu pun mencatat Partai Golkar, PDI Perjuangan, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebagai tiga partai politik paling "berbahaya" bagi Gerindra.

"Itu yang potensial mengganggu Gerindra," singkat Pendiri SMRC Saiful Mujani, dalam progran "Bedah Politik" bertajuk "Pergeseran Pemilih Partai Menjelang Pemilu 2024" di kanal YouTube SMRC TV, Kamis (1/9).

Saiful memaparkan bahwa sejak dulu, pemilih Partai Gerindra dan Golkar memang banyak beririsan dalam berbagai hal. Terlebih, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pun, pada awalnya juga merupakan tokoh dari Partai Golkar.

"Jadi logis, gitu ya, kalau pemilihnya itu, kadang-kadang pergi ke Gerindra, kadang-kadang pindah ke Golkar," lanjut Saiful.

Menurutnya, hal itu terjadi karena Gerindra dan Golkar pada dasarnya banyak berjalan pada lingkup yang sama. Salah satunya adalah terkait karakteristik dan kecenderungan wilayah dengan mayoritas pemilih yang sama-sama terletak di luar Pulau Jawa.

Selain itu, Partai Gerindra dan PDIP pun dinilai saling beririsan, karena memiliki sejumlah karakter serupa dalam berbagai bidang. Terlebih, keduanya sama-sama memiliki nilai-nilai nasionalisme yang kuat.

Di samping itu, Saiful menggarisbawahi munculnya nama PKS sebagai salah satu partai politik yang "berbahaya" bagi Gerindra. Pasalnya, selama ini, kata Saiful, Prabowo Subianto banyak didukung oleh para pemilih PKS.

"Cuma belakangan aja. Bagi PKS mungkin, 'Pak Prabowo ini menghianati kita, dia bergabung dengan (Pemerintahan) Pak Jokowi'," ujar Saiful.

Ia pun memandang logis apabila pemikiran serupa memang terjadi. Sebab, PKS menjadi salah satu unsur pendukung militan Prabowo.

Dengan demikian, ia memandang adanya peralihan pemilih Gerindra ke PKS sebagai hal yang tergambarkan secara logika. Mengingat, dalam tubuh Gerindra sendiri terdapat mobilisasi, dengan menjadi menteri di pemerintahan Joko Widodo, setelah sebelumnya berada di pihak oposisi.