Home Pendidikan Mengenal Festival Lapik Semendo, Prosesi Pernikahan Adat di Sorolangun

Mengenal Festival Lapik Semendo, Prosesi Pernikahan Adat di Sorolangun

Sorolangun, Gatra.com - Pemerintah Daerah Provinsi Jambi didukung Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar Festival Lapik Semendo pada 1-3 September kemarin.

Festival budaya yang menjadi bagian dari Kenduri Swarnabhumi 2022 ini bertujuan untuk merawat dan memperkenalkan warisan adat istiadat pernikahan di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Acara ini juga menampilkan kirab budaya, pentas seni, pemilihan Bujang Upik Sarolangun, pameran UMKM, senam massal, dan lainnya.

Bupati Sarolangun, Henrizal mengatakan bahwa masyarakat di daerahnya masih melestarikan peninggalan tradisi dalam kehidupan. Bahkan pada setiap desa di Sarolangun dapat disebut memiliki ciri tradisi adatnya.

Ia menyebut, Lapik Semendo merupakan salah satu adat istiadat di Sarolangun yang populer. Prosesi upacara pernikahan secara adat ini juga memberi pesan moral.

"Budaya Lapik Semendo merupakan pusaka dari nenek moyang di Sarolangun yang sudah dilakukan turun temurun. Khazanah budaya ini wajib harus dilestarikan agar menjadi kebanggaan bagi generasi masa depan tentang adat daerahnya," kata Henrizal dalam keterangannya pada Minggu (4/9).

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi menuturkan bahwa kecintaan terhadap budaya leluhur dengan berusaha melestarikan serta memajukannya, menunjukkan sikap peduli pada masa depan bangsa. “Dalam momentum Festival Lapik Semendo 2022 ini diharapkan mampu mengaktifkan kembali, menjaga, dan meneruskan berbagai tradisi adat lokal yang hidup sejak dulu untuk memperkuat keberadaan daerah dan bangsa Indonesia,” ucapnya.

Menurutnya, mengembangkan potensi budaya daerah juga merupakan wadah pendidikan. Generasi muda bisa belajar kepada sesepuh adat mengenai keberagaman kearifan lokalnya.

Diketahui, Lapik Semendo adalah rangkaian adat istiadat yang dilakukan dalam proses penjemputan setelah pernikahan oleh pihak keluarga perempuan ke laki-laki dengan membawa sebuah lapik atau tikar. Setelah itu pihak keluarga laki-laki beberapa pekan ke depan juga memberikan balasan kepada perempuan sebuah tikar serta peralatan rumah tangga.

Festival ini adalah salah satu dari 14 semarak pagelaran budaya yang digelar sebagai rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabhumi. Festival-festival budaya ini berlangsung di daerah sepanjang aliran Sungai Batanghari guna menghubungkan kembali masyarakat dengan sungai demi menjaga kelestariannya.