Home BUMN Resmikan Pameran Pasar Kopi di Eropa, Erick Thohir Kenalkan Kopi Nasional

Resmikan Pameran Pasar Kopi di Eropa, Erick Thohir Kenalkan Kopi Nasional

Amsterdam, Gatra.com- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir membuka pameran Pasar Kopi yang digelar Roemah Indonesia BV dan Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara, di Posthoornkerk, Amsterdam, Belanda pada Sabtu (3/9). Agenda ini berlangsung sejak 1 September hingga 11 September 202.

Erick mengatakan, Pasar Kopi bertujuan mengangkat posisi Indonesia agar menjadi aktor penting dalam rantai suplai perdagangan kopi Indonesia di tingkat internasional. Dalam event itu, Indonesia membawa lebih dari setengah ton sampel dengan 97 jenis kopi, mulai dari green bean hingga produk turunannya.

Kopi-kopi tersebut, berasal dari 11 daerah. Yakni Ijen, Gayo, Mandailing, Karo, Lampung, Kerinci, Java Preanger (area Garut dan Bandung), Dieng, Bali Kintamani, Flores, dan Toraja.

"Agenda bertajuk Indonesian Coffee Market; Coffee Revolution ini sangat bagus karena membawa pengunjung mengenal lebih jauh tentang perjalanan kopi nasional," kata Erick dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa (6/9).

Sambil mencoba beragam kopi asli hasil perkebunan Indonesia, pengunjung juga akan disuguhkan pameran sejarah produksi kopi, serta berbagai jenis kopi dan produk turunannya. Acara ini merupakan salah satu upaya BUMN untuk mendukung penuh kebangkitan industri kopi nasional.

Salah satunya dengan meluncurkan inisiatif Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara. Langkah tersebut dilakukan guna meningkatkan produktivitas kopi dalam negeri dengan skema program Makmur yang selama ini telah diterapkan di komoditas lain, seperti padi, tebu, dan jagung.

Tujuan dari PMO Kopi Nusantara, kata Erick, adalah untuk memperbaiki ekosistem bisnis kopi dari hulu hingga hilir. "Inilah pentingnya kita harus percaya membangun ekosistem Indonesia di mana kita banyak sekali mempunyai keunggulan di berbagai macam jenis kopi," ucap dia

Erick menyebut PMO Kopi Nusantara menjadi bagian dari program Makmur komoditas, kopi yang memberikan akses untuk finansial, pendampingan, jaminan gagal panen dan pasar. "Kenapa BUMN terketuk, karena 96% dari industri kopi adalah perkebunan rakyat. Tujuan akhir kita adalah kesejahteraan para petani,” ungkap Erick.

Dalam agenda tersebut, Erick juga menyaksikan tanda tangan kontrak pembelian kopi antara stakeholders yang tergabung di PMO Kopi Nusantara, termasuk PTPN Group dengan para importir di wilayah Belanda dan sekitarnya.

Erick menyebut nilai transaksi awal kerja sama tersebut  mencapai USD 5,6 juta terdiri dari USD 2,5 juta kontrak pembelian dan sisanya sebesar USD 3,1 juta berupa nota kesepahaman. "Ini sejak awal saya meminta BUMN bangun ekosistem di mana kita tidak boleh menomorduakan petani," lanjut Erick.

Menurut Erick, Uni Eropa tercatat sebagai konsumen kopi dunia terbesar, yakni mencapai 2,4 juta ton per tahun atau 24 persen dari total konsumsi kopi dunia. HaI itu juga yang menjadi salah satu alasan event Pasar Kopi dilaksanakan di Amsterdam.

Sejak dahulu, Belanda adalah pasar potensial bagi komoditas kopi Indonesia. “Selain itu, rata-rata warga Belanda meminum empat cangkir kopi sehari. Hal ini menunjukkan potensi pasar yang besar bagi Kopi Indonesia di Belanda yang memiliki sejarah sejak zaman dahulu,” ungkap Erick.

Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Dwi Sutoro yang juga Ketua PMO Kopi Nusantara mengatakan, pihaknya turut berpartisipasi aktif dalam Pasar Kopi yang akan diselenggarakan di Amsterdam itu. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan misi PMO Kopi Nusantara, yakni memperbaiki ekosistem supply chain industri kopi dalam negeri.

“Kami membawa kopi-kopi terbaik Indonesia dari lokasi pilot project kami, diantaranya adalah Kopi Ijen dari Jawa Timur yang memiliki nilai historis dan indikasi geografis yang akan menarik perhatian konsumen global,” ujarnya.

Di antara berbagai kisah kopi dan para pelakunya yang akan ditampilkan pada Pasar Kopi di Amsterdam adalah penanaman di desa-desa di batas hutan Sulawesi. Pemanfaatan lahan-lahan tidur Sumatera, reforestasi lahan kritis di Jawa Barat, dan kebun-kebun masyarakat adat Waerebo di Flores.

Ekosistem kopi Indonesia meliputi, antara lain dataran tinggi yang menumbuhkan kopi arabika, kebun kopi rakyat di dataran rendah yang menghasilkan robusta, maupun lahan gambut tempat kopi jenis liberika dapat tumbuh dengan baik.

Dalam 10 tahun terakhir, industri kopi Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, yakni sebesar 250%. Kini Indonesia menempati urutan keempat dalam  jumlah kopi yang dihasilkan. Komoditas unggulan ini, menjadi penghasil devisa terbesar ketiga setelah kelapa sawit dan karet.

Pelaksanaan Pasar Kopi di Amsterdam, diharapkan dapat mempertemukan konsumen mancanegara, khususnya Uni Eropa, dalam menikmati ragam kopi dari Indonesia. Selain itu, acara tersebut juga diharapkan terjadi business expansion yang lebih luas, sehingga Indonesia dapat menjadi eksportir utama produk kopi olahan untuk pasar dunia.