Home Info Sawit Sumringah Petani Sawit PSR di Sanggau

Sumringah Petani Sawit PSR di Sanggau

Sanggau, Gatra.com - Lelaki 53 tahun ini nampak sumringah sambil menenteng tangkai gancu yang menancap di Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit yang baru dia dodos.

Senyumnya makin melebar saat sederet pemilik kamera mengabadikan momen Bupati Sanggau Kalimantan Barat (Kalbar) ini menggelar panen perdana kebun kelapa sawit program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) milik KUD Sinar Mulia di Desa Penyeladi Kecamatan Kapuas, kemarin.

Lahan yang PSR yang sudah bisa panen itu seluas 101 hektar, ditanam pada tahun 2020 lalu, meski sebetulnya, hamparan yang ada mencapai 500 hektar. Tapi sisanya hasil tanam tahun lalu.

Sang Bupati, Paolus Hadi, ditemani Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Muhammad Munsif. Lelaki ini datang dari Pontianak ibukota Kalbar, mewakili Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

Tak berlebihan kalau Paolus teramat gembira pagi kemarin itu. Selain lantaran daerahnya sudah bisa panen perdana PSR program Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit tadi, berat per janjang hasil panen sawitnya juga moncer; 4,5 kilogram per janjang. Biasanya hasil panen pohon sawit umur 28 bulan seperti pohon sawit yang dipanen itu, hanya sekitar 3 kilogram per janjang.

"Ini bantuan pemerintah yang luar biasa. Sudahlah dikasi gratis, dibina, di dukung pula. Untuk itu, saya minta kepada para petani untuk maksimal mengurus kebunnya. Jangan malah dijual, sebab ini sumber uang," pintanya.

Munsif tak memungkiri apa yang dibilang Paolus tadi. "Program PSR itu nyata. Alhamdulillah, seperti yang kita lihat, hasil panennya luar biasa," katanya.

Tak hanya Paolus dan Munsif yang sumringah. Petani juga begitu. Soalnya setelah menunggu 28 bulan, mereka sudah bisa menghasilkan 1,5 sampai 2 ton per hektar. "Petani sangat senang, apalagi sekarang harga TBS sudah mulai naik," kata Rukiman, salah seorang pengurus KUD Sinar Mulia itu.

Lelaki ini berharap apa yang mereka rasakan bisa menjadi pemantik semangat bagi petani lain untuk ikut PSR. "Kami berharap petani tidak ragu untuk ikut PSR, bibitnya unggul, kita dibina pula," ujarnya.

Bagi Ketua DPD Apkasindo Sanggau, Mahatir Muhammad, panen perdana tadi malah enggak hanya sekadar panen, tapi hasil panen itu telah menjadi bukti bahwa selama proses PSR, petani telah mendapat edukasi terkait sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

"Sebelumnya, kami menyampaikan terimakasih kepada pemerintah, BPDPKS atas hadirnya program PSR ini. Sebab melalui PSR ini lah kami petani diajari menjadi pekebun yang kemudian mengerti apa itu Good Agriculture Practices. Tiga tahun lagi kan petani sudah harus ISPO. Ini sudah menjadi modal bagi kami petani," katanya.

Menariknya, selama petani berurusan soal PSR, Dinas Perkebunan dan Peternakan Sanggau sangat berperan aktif. Tak ujug-ujug Sanggau melakukan itu. Program PSR banyak manfaatnya bagi petani kelap sawit --- menjamin kesejahteraan petani lewat peningkatan produktifitas --- menjadi alasan pokoknya.

"Pemerintah pusat sudah ngasi kemudahan bagi petani kami, mereka dibantu biaya tumbang chipping, pembelian bibit sawit dan juga pupuk. Tentu tugas kami lah mengawal, membina dan mengarahkan petani," kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sanggau, Syafriansah.

Dalam proses pengawalan tadi kata Syafriansyah, pihaknya juga menggandeng Kejaksaan setempat lewat perjanjian kerjasama untuk mengantisipasi munculnya niat-niat tak baik atas program PSR itu.

"Kita juga melakukan pengendalian penggunaan keuangan dengan cara menghadirkan pendampingan. Duit yang ada di rekening diblokir. Pencairannya hanya sesuai kebutuhan berdasarkan progres kegiatan," ujarnya.

Alhamdulillah kata Syafriansah, secara keseluruhan program PSR yang sudah berjalan di Kabupaten sanggau sudah mencapai 4500 hektar. Meski begitu, Sanggau masih tetap sangat butuh program PSR ini lantaran tanaman tua kebun rakyat di Sanggau masih ada sekitar 24 ribu hektar lagi.

"Kita terus berkoordinasi dengan BPDPKS terkait itu. Baik secara langsung maupun berkirim surat. Mudah-mudahan program PSR terus berkelanjutan biar petani kelapa sawit Indonesia bisa merasakan dan tentunya mereka akan semakin sejahtera lantaran melalui program PSR, pola berkebun kelapa sawit mengarah ke intensifikasi, peningkatan produksi tanpa menambah luasan lahan. Kalau produksi bagus, sudah pasti, kesejahteraan petani juga akan semakin bagus," ujarnya.


Abdul Aziz