Home Hiburan Begini Perjuangan Syaura, Kreator Asal Yogyakarta Yang Berhasil Sabet Penghargaan Internasional

Begini Perjuangan Syaura, Kreator Asal Yogyakarta Yang Berhasil Sabet Penghargaan Internasional

Jakarta, Gatra.com - Nama seniman asal Yogyakarta, Syaura Qotrunadha, kian melejit. Kali ini, Syaura menekalkan karya teranyar yang melibatkan penggunaan teknologi dengan cara yang baru dan membangun koneksi yang berhasil memenangkan penghargaan di ajang VH Award ke-4.

Dalam karyanya ia melibatkan juga subjek yang berkisar pada hubungan manusia dengan kecerdasan artifisial hingga masalah sosial dan ekologi yang mendesak di zaman ini.

Dalam acara press conference yang diadakan di Museum MACAN pada Kamis (8/9). Ia bercerita tentang perjuangannya untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu finalis di acara penghargaan tersebut. Ia awalnya tidak tau sama sekali tentang konsep yang ditawarkan oleh pihak penyelenggara, sampai akhirnya ia belajar dan memulai dengan suatu karya.

“Pas tahun 2020 setelah selesaikan pembuatan video kertas, salah satu karyaku. Akhirnya aku riset dan nemu kegiatan tentang antropologi rasial, di jaman sekarang kan jarang bahas tentang itu ya, jadi itu awal mula aku tertarik” katanya.

Ia juga sempat berkonsultasi dengan Prof. asal Belanda yang pernah menulis kegiatan di Indonesia dari Timur ke Barat. “Akhirnya belajar juga sama beliau, dan baca-baca ulang soal Indonesia pada jaman penjajahan. Tujuannya satu, saya ingin tau apa yang akan terjadi di masa depan setelah mengetahui beberapa hal yang sekarang dan di masa lalu, terus juga bagaimana pendidikan dibentuk dari awal hingga sekarang itu gimana prosesnya.” Jelasnya.

Untuk risetnya sendiri, sebelum melakukan suatu karya, Syaura mengatakan imajinasi dan riset tersebut mengalir secara otomatis, namun untuk prosesnya membutuhkan beberapa waktu sehingga hasil yang dihadirkan pun terlihat berkelas.

“Riset tuh saya ngedraft sendiri dan ngalir sendiri, sambil coba-coba ngetes Misroskop buat liat elemen-elemen yang bisa dimasukkan ke video. Saya waktu buat video pertama pakai elemen air dan tanah. Tapi elemen itu ga saya masukkan sepenuhnya karena nanti yang nonton akan bingung dan kepenuhan, jadi saya split jadi 3” ungkapnya.

Selanjutnya, Syaura juga banyak menggali ilmu baru lewat para senior dengan menonton dokumenter tokoh-tokoh penting untuk menambah ide cerita lewat karya miliknya, selain itu juga ia mengaku bahwa banyak pembelajaran yang bisa diambil juga lewat beberapa finalis dan pemenang di ajang yang sama.

“Wejangannya soal ga jauh-jauh dari pemahaman dan pengetahuan sama ilmu baru, terus kita diskusi soal kendala, cost produksinya, mereka metodenya gimana. Bisa banyak belajar lewat situ, karena teknologi juga lebih majuan luar negeri kan makanya kita kompetisi juga sambil sharing.” tambahnya.

Menutup sesi, kesulitan selama pembuatan karya menurutnya, hal tersebut seperti kehidupan, dikarenakan hal tersebut seperti makanan sehari-hari. “Jadi kadang kaya project pertama dan kedua, misalkan kekurangan dana tetapi harus tetap jalan meskipun ga langsung jadi," tuturnya. 

Sebagai bagian dari proses VH AWARD, setiap perupa yang terpilih akan mendapatkan dana sebesar USD25.000 untuk memproduksi karya audio-visual dalam medium video yang akan dinilai oleh dewan juri, dan diundang untuk berpartisipasi dalam sebuah program residensi daring yang diselenggarakan oleh institusi seni dan teknologi ternama yang berbasis di New York, Eyebeam.