Home Nasional Indonesia dan Selandia Baru Bekerja Sama Kembangkan Industri Geothermal

Indonesia dan Selandia Baru Bekerja Sama Kembangkan Industri Geothermal

Jakarta, Gatra.com – Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) tahun ini kembali diadakan offline setelah dua tahun digelar secara daring. New Zealand Trade and Enterprise (NZTE) selaku Kamar Dagang Selandia Baru beserta sejumlah perusahaan Selandia Baru terkemuka dalam pengembangan teknologi dan penggunaan panas bumi akan hadir untuk berbincang dengan para mitranya di Indonesia.

Perusahaan Selandia Baru yang hadir pada IIGCE 2022 antara lain MTL, Jacobs, GNS, Seequent, Auckland UniServices, Waikato Institute of Technology (Wintec) dan MB Century. Selandia Baru juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan Indonesia untuk melancarkan perkembangan industri geothermal di Indonesia, antara lain Pertamina Gheotermal, Geodipa, Star Energy, Supreme dan juga dengan akademisi gheotermal di UGM dan ITB

"Sekarang ini kita kembali lagi dengan 7 perusahaan, terdiri dari software, kontruksi, engineering, dan tiga institusi pendidikan tinggi. Kita lebih banyak membantu technical assistant, capacity building bersama developer-developer ternama untuk bekerja sama," kata Diana Permana, Trade Commissioner Agency Part of New Zealand Embassy Jakarta dalam acara IIGCE, Rabu (14/9).

Baca Juga: IIGCE 2022: Panas Bumi Modal Jalankan Transisi Energi

Menurutnya, Pemerintah Selandia Baru setiap tahunnya mengeluarkan dana untuk membantu sharing tentang geothermal dari level terbawah sampai ke atas. Dari level pemerintahan, kemudian dari daerah-daerah bekerja sama dengan institusi pendidikan, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memberikan edukasi.

Saat ditanyakan mengenai perjanjian kerja sama Indonesia dan Selandia Baru dalam jangka pendek dan jangka panjang, Diana mengatakan, untuk jangka pendek untuk Indonesia, saat ini pihaknya hanya meningkatkan kapasitas dari asisting gheotermal yang sudah ada.

"Untuk jangka panjang, tentunya Indonesia ingin lokasi-lokasi yang baru, namun itu tidak mudah, harus diteliti lebih baik lagi, analisanya mana yang lebih berpotensi,” ujarnya.

Kawasan geothermal yang menjadi wadah kerja sama antara Indonesia dengan Selandia Baru adalah Indonesia Timur. Pulau Flores sedang dijajakan untuk menjadi salah satu pilot project untuk geothermal. Meskipun begitu, kebutuhannya harus dilihat di setiap provinsi untuk menentukan daerah mana yang memiliki dan apa saja kebutuhan untuk mendukung proyek tersebut.

Sedangkan ketika ditanyakan mengenai kendala selama investasi geothermal, Diana menjawab bahwa harus lebih menyosialisasikan ke beberapa pihak dan tidak bisa investor hanya menginvestasikan uang.

"Bukan cuma uang, investor harus juga meluangkan waktu, tenaga dan effort lebih untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan itu penting,” ucapnya.

Baca Juga: ADPPI Minta Pemerintah Gencar Sosialisasikan Panas Bumi

Kerja sama Indonesia dengan Selandia Baru mengenai energi terbarukan sudah berjalan sejak lama. Selandia Baru telah menjadi mitra industri geothermal di Indonesia selama 40 tahun. Pembangunan pembangkit geothermal pertama di Kamojang menjadi fondasi industri geothermal di Indonesia.

Pada 2016, perjanjian kerja sama Indonesia dan Selandia Baru dalam pelatihan geothermal diciptakan, meliputi pembuatan strategi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan berbagai program implementasi lainnya yang didukung oleh Pemerintah Selandia Baru. Program yang dijalankan berupa pelatihan, baik dalam pekerjaan (on the job training) dan luar pekerjaan (off the job training).

Saat ini, Indonesia dan Selandia Baru telah menjalin kerja sama melalui kemitraan komprehensif yang telah menghasilkan rencana aksi untuk periode 2020–2024. Rencana aksi ini melingkupi bidang ekonomi dan perdagangan, energi terbarukan dan lingkungan, pendidikan, pariwisata, pembangunan, serta pertahanan.