Home Pendidikan Di Tengah Masyarakat Plural, Abdul Mu'ti: Pendidikan Agama di Sekolah Sangatlah Penting

Di Tengah Masyarakat Plural, Abdul Mu'ti: Pendidikan Agama di Sekolah Sangatlah Penting

Jakarta, Gatra.com - Pendidikan menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjembatani perbedaan yang ada antar manusia. Situasi di Indonesia yang plural membutuhkan peran pendidikan untuk menumbuhkan toleransi pada anak dalam berkehidupan.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, membagikan pandangannya mengenai pluralitas dalam konferensi internasional bertajuk "Mengukuhkan Martabat Manusia dalam Masyarakat Plural".

"Pluralitas baik agama, budaya, terjadi karena proses-proses yang bersifat alamiah, karena proses ilmiah, dan juga bersifat amaliyah. Pluralitas adalah kekayaan yang seharusnya membuat kita lebih maju. Namun saat-saat tertentu, pluralitas bisa menjadi masalah, pemicu perpecahan di kehidupan masyarakat kita," ujarnya, Rabu (14/9) malam.

Abdul melihat bahwa beragama merupakan fitrah manusia. Namun, manusia memiliki kebebasan untuk memilih agama mana yang tepat untuk dirinya. Dalam konteks perbedaan yang ada, Abdul menyatakan bahwa manusia perlu menyadari perbedaan tersebut untuk dihormati karena merupakan hak setiap manusia.

"Dalam beragama itu tidak boleh ada pemaksaan, dan tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama," katanya.

Untuk merawat dan menjaga agar pluralitas tidak menjadi suatu permasalahan, Abdul menerangkan bahwa peran pendidikan keagamaan ditingkat sekolah menjadi penting. Dalam banyak kasus, pendidikan agama menjadi uniting factor atau faktor yang menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada.

Pendidikan agama yang plural menjadi jembatan dalam beragama, dan dijelaskan melalui tiga konsep utama. Abdul menjabarkan konsep pertama adalah mindful education, yang berarti pemahaman bahwa setiap orang harus diakui eksistensinya, harus dihormati pilihan-pilihannya, serta memperhatikan perilaku yang terbaik agar tidak menyakiti pihak lain, atau membuat orang lain kesulitan.

Konsep yang kedua adalah pendidikan yang bersifat inklusif. Inklusif berarti individu berusaha terbuka di tengah perbedaan yang ada, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Abdul menerangkan bahwa kesadaran masing-masing dalam memilih agamanya menjadi prinsip yang dipegang secara teguh.

"Inklusif dalam pendidikan agama, menurut saya, pendidikan agama tidak harus dibatasi dalam hanya 6 agama yang diakui oleh pemerintah. Keikutsertaan peserta didik dalam pendidikan agama tidak bisa dibatasi sesuai dengan jumlah berapa siswa yang beragama tertentu sehingga itu menjadi syarat administratif diselenggarakannya pendidikan agama. Sebab menurut saya, agama itu tidak bisa dikuantifikasi karena merupakan pilihan pribadi," tuturnya.

Lebih lanjut, Abdul menuturkan prinsip yang terakhir adalah bagaimana transformasi berbagai macam ajaran agama untuk bisa saling memberi ruang dialog. Ini menjadi penting agar setiap orang bisa memahami, atau minimal mengenal agama lain demi terciptanya toleransi.

"Yang paling penting adalah bagaimana kita memahami orang lain dengan berinteraksi secara lebih terbuka. Karena pada dasarnya, toleransi bisa dibentuk melalui interaksi-interaksi personal di mana kita lebih tulus menerima perbedaan dan bisa membangun kedekatan sehingga kita menjadi orang yang terbuka di tengah perbedaan yang ada," ucapnya.