Home Nasional Tantangan dan Pembelajaran dalam Masyarakat Majemuk

Tantangan dan Pembelajaran dalam Masyarakat Majemuk

Jakarta, Gatra.com - Kehidupan sosial erat berkaitan dengan interaksi antar-manusia. Dengan berbagai keberagaman yang ada di Indonesia, bagaimana seseorang bersikap menjadi penentu apakah perbedaan yang ada bisa menjadi suatu permasalahan atau persatuan.

Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi, menyebutkan bahwa perilaku diskriminatif menjadi suatu tantangan dalam membangun masyarakat majemuk nan damai di kehidupan sehari-hari.

"Indonesia masih memiliki catatan terkait kebebasan beragama. Di Wahid Foundation sendiri, kita secara rutin memiliki catatan rekaman peristiwa yang masih memperlihatkan banyak kejadian yang bisa kita nilai belum menghargai satu sama lain," katanya dalam konferensi internasional yang digelar Leimena Institute, Rabu (14/9) malam.

Mujtaba menjabarkan contoh kasus terkait belum adanya penghargaan mengenai kebebasan beragama, salah satunya yang terjadi di tingkat sekolah mengenai proses pemilihan ketua kelas. Ketika ketua kelas yang terpilih memiliki perbedaan agama dan termasuk minoritas dibanding lainnya, guru meminta proses pemilihan diulang

"Apakah siswa atau anak-anak hanya mendapatkan ajaran yang dianggap kurang toleran dari generasi yang lebih tua?" tanyanya.

Kasus lain yang melibatkan anak-anak juga terjadi di Solo saat anak-anak merusak makam seseorang yang berbeda agama. Pada kasus ini, hal yang sama terjadi bahwa perilaku mereka mendapat persetujuan dari gurunya sendiri.

Dari kasus-kasus yang kerap terjadi, permasalahan yang muncul dipetakan oleh Mujtaba terjadi karena beberapa hal, salah satunya adanya sistem di sekolah yang tidak mendukung adanya perbedaan.

"Sebagian besar cenderung memberlakukan model satu agama di sekolahnya. Misalnya, guru agamanya hanya ada satu, tidak disertai guru agama yang lain. Pada kasus tertentu, (sekolah) memaksakan seragam yang hanya berlaku bagi agama tertentu," ujarnya.

Selain itu, peran aktor yaitu guru dan siswa penting. Ini berkaitan dengan budaya yaitu hal-hal yang terjadi di kehidupan sekolah. Misalnya, pembiasaan duduk satu bangku dengan yang berbeda agama, ini bisa mendorong terciptanya pemahaman bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang buruk.

Dalam kasus sosial lain di luar sekolah, ruang perjumpaan menjadi salah satu cara untuk membangun interksi yang menjembatani perbedaan.

"Misalnya saat beraktivitas di pasar, kita tidak perlu menanyakan agamamu apa. Tapi kita berinteraksi secara natural, terjadi begitu saja,"

Mujtaba menilai bahwa komitmen pemimpin menjadi penting dalam upaya menciptakan kedamaian. Keberanian pemimpin menindaklanjuti pelanggaran hak dan perilaku diskriminatif menjadi pembeda dan akan membantu memulihkan suasana kemajemukan yang ada di masyarakat.

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR