Home Nasional Konflik Kebebasan Beragama Masih Menjadi Persoalan, Begini Upaya Mengatasinya

Konflik Kebebasan Beragama Masih Menjadi Persoalan, Begini Upaya Mengatasinya

Jakarta, Gatra.com - Keberagaman di masyarakat memerlukan pemahaman agar terjadi penerimaan. Konsep literasi beragama lintas budaya menjadi salah satu caranya. Beberapa negara lain memiliki permasalahan masing-masing terkait kebebasan beragama, sehingga penting untuk mengetahui sebagai bentuk kolaboratif.

Founder and President of Hardwired Global, Tina Ramirez, menjelaskan kerja organisasinya di Iraq untuk memulihkan situasi pasca-pendudukan ISIS.

"Kami memberi pelatihan dan pendidikan untuk kebebasan beragama dalam membangun masyarakat plural. Di Iraq pada 2014, genosida masih terjadi. Di beberapa wilayah, sekelompok tentara datang dan memaksa orang untuk masuk ke dalam aliran Islam yang sesuai pemahaman tentara. Ini menyebabkan masyarakat jadi tertindas," jelasnya dalam konferensi internasional yang digelar Leimena Institute, Kamis (15/9) malam.

Ketika ISIS akhirnya pergi, beberapa pihak mulai berupaya melakukan penghapusan kebencian yang ditinggalkan dan membangun komunitas damai. Namun prosesnya masih berlangsung hingga saat ini, karena selama 4 tahun menduduki Iraq, murid yang bersekolah di sekolah yang dikelola ISIS, diajari untuk membenci orang-orang yang memiliki pemahaman agama berbeda. Bahkan, para tentara ISIS menggantung mayat untuk mengintimidasi orang lain mengikuti ajarannya.

Untuk mengatasinya, maka perbaikan sistem pendidikan dilakukan melalui pembentukan kurikulum baru yang bertujuan untuk menanamkan nilai pluralitas dan hak asasi manusia. Kurikulum ini disebut dengan Kurikulum Taman Damai yang melibatkan siswa secara langsung untuk menerapkannya.

President of the Love Your Neighbor Community (LYNC), Wade Kusack, mengatakan bahwa pelarangan kebebasan beragama pernah terjadi di Kazakhshtan.

"Kazakhstan pernah mengalami masa di mana ada pembatasan kebebasan beragama. Ketika mulai muncul ekstrimisme dan radikalisme, tanggapan pertama peremerintah adalah dengan melakukan penguatan hukum agama dan penekanan terhadap kelompok minoritas. Pendekatan ini justru memperburuk situasi keamanan," katanya.

Solusinya adalah apa yang disebut filsafat pluralitas berkompetensi yang meliputi konsep Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Ini dilakukan dengan membangun hubungan antar-agama di dalam kehidupan bermasyarakat.

Situasi keberagaman di Afrika dijelaskan oleh Executive Director of The Sameh Institute, John Azumah. Ia menerangkan bahwa konsep beragama di sana, sangat berkaitan erat dengan agama tradisional yang dimiliki masing-masing individu.

"Orang Afrika ingin menjadi muslim, tapi mereka ingin jadi orang Afrika. Mereka ingin jadi orang kristen, tapi juga ingin jadi orang Afrika," ujarnya.

Dalam menghadapi keberagaman itu, cara yang ditempuh adalah melalui dialog hidup yang terjadi di kegiatan sehari-hari dengan melibatkan berbagai komunitas.

Namun, cara itu tidak cukup tanpa dibarengi dengan pemahaman secara teologis tentang agama. Maka, konsep literasi keagamaan lintas budaya berperan sebagai sarana untuk membekali pemeluk agama dengan keterampilan dan aturan untuk berinteraksi di masyarakat majemuk agar tercipta perdamaian.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Masjid Istiqlal, Faried F Saenong, mengatakan bahwa toleransi beragama menjadi unsur penting dalam menjalani kehidupan. Toleransi beragama tumbuh melalui literasi keagamaan lintas budaya, yang pada akhirnya akan membawa masyarakat hidup berdampingan.

"Kompetensi kolaboratif di tingkat akar rumput, kerja sama masing-masing di masyarakat. Pada akhirnya, kita bisa menciptakan kolaborasi dalam hal yang bersifat kemanusiaan," ucapnya.