Home Ekonomi Badan Pangan Nasional Klaim Telah Membuat Data Neraca Pangan yang Terintegrasi

Badan Pangan Nasional Klaim Telah Membuat Data Neraca Pangan yang Terintegrasi

Jakarta, Gatra.com - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan, salah satu mitigasi krisis pangan adalah pendataan neraca komoditas pangan.

Ia mengklaim, Badan Pangan Nasional telah membuat data pangan yang terintegrasi bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Saat ini kami sudah rapihkan dan integrasikan data-data pangan tersebut. Semua tertuang dalam Neraca Pangan Nasional yang setiap minggu kami laporkan perkembangannya kepada Presiden,” ujar Arief dalam keterangan di Jakarta, Jumat (16/9).

Ia menjelaskan, data stok, prakiraan produksi dan konsumsi pangan menjadi hal yang krusial untuk perencanaan antisipasi potensi krisis pangan.

Arief menyebut, saat ini Indonesia tidak mengalami krisis pangan dan ketersediaan pangan secara nasional dipastikan dalam kondisi aman. Menurut Arief, suatu negara dikategorikan mengalami krisis pangan apabila sudah tidak bisa menjangkau makanan, tidak ada makanan yang tersedia, bahkan sampai kekurangan gizi dan mengalami gizi buruk.

“Kita bersyukur, saat ini Indonesia tidak mengalami hal tersebut. Ketersediaan pangan, berdasarkan perhitungan Neraca Pangan Nasional menunjukan bahwa pangan nasional dalam kondisi tersedia dan aman,” ungkapnya.

Adapun Prognosa Neraca Pangan Nasional oleh Badan Pangan Nasional mencatat, hingga akhir Desember 2022 komoditas yang mengalami surplus antara lain beras sebanyak 7,5 juta ton, jagung 2,8 juta ton, kedelai 250 ribu ton, bawang merah 236 ribu ton, bawang putih 239 ribu ton, cabai besar 53 ribu ton, cabai rawit 72 ribu ton, daging ruminansia 58 ribu ton, daging ayam ras 903 ribu ton, telur ayam ras 191 ribu ton, gula konsumsi 806 ribu ton, dan minyak goreng 716 ribu ton.

"Dari sejumlah komoditas tersebut beberapa terjamin stoknya setelah dilakukan importasi, sepertu kedelai, bawang putih, daging ruminansia, dan gula konsumsi," sebut Arief.

Selain itu, Arief menambahkan, konsumsi pangan lokal juga sebagai bentuk upaya mengantisipasi krisis pangan global. Pasalnya, Arief melanjutkan, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi karena setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing, termasuk kekhasan dalam hal konsumsi makanan pokok.

Karena itu, Arief mengajak masyarakat memanfaatkan tantangan krisis pangan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan produksi pangan lokal.

“Di tengah terbatasnya produk impor, ini menjadi kesempatan kita untuk memproduksi di dalam negeri dan melakukan substitusi, seperti yang dilakukan di Papua dan Maluku dengan pangan berbahan dasar sagu,” tandas Arief.