Home Regional Budidaya Larva Lalat Jadi Solusi Mengatasi Permasalahan Sampah dan Pengangguran

Budidaya Larva Lalat Jadi Solusi Mengatasi Permasalahan Sampah dan Pengangguran

Mojokerto, Gatra.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Mojokerto untuk mengatasi permasalahan sampah diwujudukan dengan giat pembinaan dan pelatihan kepemudaan dalam budidaya maggot, atau larva lalat  jenis Black Soldier Fly pada Kamis (15/09). Menurut Ikfina Fahmawati, selain menyelesaikan masalah lingkungan, pelatihan budidaya maggot juga memiliki nilai ekonomi.

"Ini adalah pelatihan yang produktif secara ekonomi ditambah lagi plusnya adalah salah satu bentuk kegiatan produktif yang menjadi salah satu solusi pemecahan masalah terhadap masalah sampah," jelas Bupati Ikfina, di gedung pertemuan lantai 3, Kantor Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Kamis (15/09).

Pembinaan budidaya maggot ini yang menyasar Karang Taruna desa, juga dilaksanakan di tiga Kecamatan yakni di Kecamatan Ngoro, Kecamatan Kemlagi, dan Kecamatan Jetis. Turut hadir dalam pelatihan itu Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Nunuk Djatmiko, Forkopimca Kemlagi, Ketua Karang Taruna Kabupaten Mojokerto Agus Suprayitno, Ketua Karang Taruna Kecamatan Kemlagi serta Ketua Karang Taruna Desa se-Kecamatan Kemlagi.

Ikfina menyebutkan bahwa saat ini sampah menjadi masalah yang cukup serius. Pada tahun 2021 kemarin, Pemkab Mojokerto sudah membuka Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang baru di desa Karangdieng, karena di TPA sebelumnya yang berada di desa Belahantengah Kecamatan Mojosari sudah melebihi kapasitas dalam penampungan sampah.

Karena bertambahnya volume sampah setiap tahun, Ikfina menjelaskan pada 2023 Pemkab Mojokerto sudah menganggarkan untuk pembukaan perluasan lahan TPA di Karangdieng. Hal itu lantaran lahan yang dipakai sejak awal tahun ini sudah terisi penuh.

"Artinya masalah sampah ini tidak boleh kita biarkan mengalir begitu saja memang harus ditangani secara serius, masalah sampah ini kalau tidak ditangani dari hulu maka nanti akan membengkak di hilir," ujarnya.

Selain itu, ditemukan banyaknya tumpukan sampah sembarangan baik di sungai maupun dipinggir-pinggir jalan. Bupati Ikfina menilai, bahwa kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengolahan sampah masih perlu ditingkatkan lagi.

"Maka kegiatan ini menjadi salah satu penyelesaian terhadap masalah sampah tersebut, maggot ini adalah model budidaya yang betul betul nanti akan memanfaatkan sampah-sampah organik," bebernya.

Terdapatnya 24 pasar yang tersebar di Kabupaten Mojokerto, Ikfina juga menjelaskan, pasar menjadi penghasil sampah organik yang produktif, di mana kalau sampah tersebut dikumpulkan dan salurkan kepada peternak maggot, maka ini akan menjadi suatu yang bernilai, karena maggot sendiri pun juga bernilai rupiah.

"Di sisi yang lain, dunia perikanan kita saat ini termasuk peternakan jenis unggas-unggas tertentu juga sangat membutuhkan keberadaan dari maggot sebagai salah satu sumber makanan, sehingga ini akan menjadi satu siklus dalam ekosistem yang bisa menyeimbangkan ekosistem," jelasnya.

Selain itu, budidaya maggot bisa menjadi salah satu upaya dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Ikfina menjelaskan pada saat ini di lingkup wilayah Kabupaten Mojokerto terdapat 632.808 orang dengan kategori angkatan kerja. Dari jumlah tersebut, sebanyak 597.775 orang sudah bekerja dan sejumlah 35.033 orang yang masih belum bekerj yang termasuk dalam kategori tingkat pengangguran terbuka.