Home Teknologi Drone Bomber “Shahed-136”, Hantu di Medan Konflik Rusia-Ukraina

Drone Bomber “Shahed-136”, Hantu di Medan Konflik Rusia-Ukraina

Jakarta, Gatra.com – Lembaga Intelijen Pertahanan Inggris (British Defence Intelligence/BDI) dalam laporannya per 14 September 2022 menyatakan, Rusia untuk pertama kali mengerahkan pesawat tak berawak (UAV) bersenjata Iran ke Ukraina. Para pejabat Ukraina melaporkan bahwa pasukan mereka telah menembak jatuh UAV Shahed-136 di dekat wilayah Kupiansk, Ukraina bagian Timur.

Shahed-136 atau S-136 adalah drone pembunuh, pembawa bom mematikan dengan jangkauan 2.500 kilometer. “Sistem serupa kemungkinan turut digunakan dalam serangan di Timur Tengah, termasuk terhadap kapal tanker minyak MT Mercer Street pada Juli 2021,” tulis laporan BDI.

BDI menyatakan, Rusia semakin banyak mendapatkan alutsista persenjataan dari negara lain yang terkena sanksi berat seperti Iran dan Korea Utara, karena stok persenjataannya yang juga semakin menipis. Insiden Shahed-136 yang menerobos ke garis depan wilayah Ukraina menunjukkan kemungkinan bahwa Rusia mencoba menggunakan sistem tersebut untuk melancarkan serangan taktis daripada melawan target strategis ke Ukraina.

Shahed-136 menambah amunisi persenjataan rudal jelajah dan pasukan artileri Rusia untuk serangan presisi pada jarak jauh. Drone siluman ini teruji dalam pertempuran di masa lalu, dan dianggap bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi pada 2019. Drone Iran ini juga dinilai sebagai drone masa depan, dengan platform siluman yang terbukti menandingi alat pertahanan udara Israel.

Ilustrasi Shahed-136 (Doc. Islamic World News)

Selain itu, pasukan Rusia juga memiliki pengalaman panjang menggunakan “drone bunuh diri” ini saat operasi bersama Iran dalam pertempuran di Suriah. Peralatan canggih ini juga diyakini berperan dalam operasi penyerangan ke wilayah Yaman yang dikuasai oleh pemberontak Houthi.

Sejumlah analis menyebut, bahwa Rusia mengakuisisi Shahed-136 untuk menghancurkan peluru kendali darat ke udara (Surface to Air Missile/ SAM) Ukraina yang berpotensi mengancam operasi pesawat tempur Rusia. Operasi pelumpuhan SAM Ukraina penting dilakukan Negara Beruang Merah agar pesawat tempurnya leluasa melakukan pengeboman atau pengerahan pasukan darat dengan bantuan tembakan udara (Close Air Support/ CAS).

Diketahui, Shahed-136 adalah drone modern tipikal “suicide drone” yang dikembangkan industri pertahanan Iran. Drone ini dirancang untuk menetralisir target dari jarak jauh. Drone jenis ini memiliki jangkauan minimal 1.800 km, lebar sayap 2,2 meter, dan kecepatan 120-200 km/jam. Drone ini diperuntukkan untuk menyerang garis depan dan garis dukungan musuh serta menganggu atau menghancurkan pangkalan militer musuh. Drone dilengkapi sensor yang mampu mengendus pancaran radar X-band sistem SAM atau radiasi pancaran radar sistem pertahanan udara lawan.

Pengamat pertahanan Rahmad Budi Harto menyatakan, drone S-136 bisa dikategorikan sebagai loitering munition. Yakni, drone yang misi utamanya terbang mengitari wilayah lawan untuk mencari sasaran khusus. “Loitering munition bisa terbang secara otonom yaitu mencari sendiri targetnya dengan sensor yang tersedia atau terbang terkendali, yaitu diarahkan oleh controller untuk menuju sasaran yang sudah ditetapkan,” kata Rahmad kepada Gatra.com.

Drone S-136 menurutnya digunakan untuk menjalankan misi khusus, yaitu menyerang sistem pertahanan udara lawan atau anti-SAM System. “Dia dilengkapi sensor radiasi yang bisa membaca pancaran radiasi radar SAM lawan ketika diaktifkan untuk melakukan tracking terhadap pesawat tempur yang akan ditembak jatuh,” ujarnya.

Penampakan Drone Rahasia Iran (Doc. REUTERS)

Pria yang juga pemerhati drone itu mengatakan kehadiran drone S-136 cukup memantik perhatian analis pertahanan dan pakar aviasi. Setelah sebelumnya kehadiran drone TB-4 Bayraktar Turki yang juga mencuri perhatian saat digunakan dalam perang Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh. Hanya saja, terdapat sejumlah perbedaan misi di antaranya keduanya. Di mana TB-4 Bayraktar merupakan UCAV, drone kategori MALE (Medium Altitude Long Endurance) yang tugasnya terbang tinggi memantau, mencari target, dan melakukan penembakan dengan bom atau misil terhadap target.

“Secara ukuran, loitering munition jauh lebih kecil dibandingkan UCAV. Selain itu, loitering munition menggotong bahan peledak di kepalanya, sedangkan UCAV menggotong bom, misil atau rudal di sayapnya. Dalam hal ini, loitering munition melakukan misi bunuh diri, kemudian juga disebut sebagai suicide drone, dengan menabrakkan diri ke target dengan presisi tinggi,” Rahmad menjelaskan.

Selain itu, S-136 biasanya dikendalikan dan terbang langsung menuju sasaran. “Loitering munition terbang secara otonom, berputar-putar mencari sasaran. Biasanya dalam swarm atau gerombolan. Kalau tidak ada sadaran yang dituju, dia pulang. Kalau ada sasaran, dia menyerang dan menjadi suicide drone,” katanya.

Menurutnya, terdapat dua alasan kenapa Rusia menggunakan peralatan drone Ukraina. Pertama, karena militer Rusia memiliki keterbatasan dalam bantuan tembakan udara (CAS) karena ancaman peluru kendali darat ke udara (SAM) oleh Ukraina. Kedua, Rusia masih dinilai lemah dalam menjalankan misi menekan pertahanan udara musuh (Suppression of Enemy Air Defenses/SEAD). “Karena Rusia belum punya tool yang pas untuk menemukan SAM lawan yang mobile dan menghancurkannya secepat mungkin,” pungkasnya.