Home Nasional Keris-keris Langka Nusantara Dipamerkan, Butuh Perda Agar Keris Tak Lari ke Luar Negeri

Keris-keris Langka Nusantara Dipamerkan, Butuh Perda Agar Keris Tak Lari ke Luar Negeri

Bantul, Gatra.com – Melalui Musyawarah Senapati Nusantara (MAS) 2022, paguyuban penggemar keris nasional mendorong pemerintah daerah menyusun dan menghadirkan peraturan daerah seputar keris. Berlangsung selama tiga hari, MAS kedua ini menghadirkan bursa keris yang menyediakan 160 gerai. 

Ketua panitia MAS 2022 Nurjianto mengatakan pameran dan bursa keris ini akan berlangsung dari Jumat (16/9) sampai Minggu (18/9).

“Senapati Nusantara adalah organisasi perkerisan nasional yang pertama mengawali penyusunan naskah akademik Hari Keris. Ini sebagai upaya kami mendorong seluruh pemda memiliki perda tentang keris,” katanya, Sabtu (17/9), di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dirinya menjelaskan dorongan untuk menghadirkan perda tentang keris ini sebagai upaya daerah mengembangkan ekosistem perkerisan, dari sisi spiritual, pendidikan, seni, sains metalurgi, seni kriya, dan juga elemen ekonomi UMKM. Langkah ini juga akan diupayakan di banyak daerah di Indonesia yang memiliki tosan aji seperti tombak dan jenis lainnya.

Perda ini diharapkan memberi arahan pengembangan SDM pengrajin hingga strategi pemasarannya. Tidak hanya itu, perda itu juga mendorong sosialisasi keris di satuan pendidikan dari SD sampai universitas seputar sejarah dan kebudayaan keris termasuk sains keris.

“Semua upaya ini garis besarnya adalah pada aspek pelestarian yang erat kaitannya dengan perdagangan, yakni bagaimana pemda bisa memfasilitasi pengiriman ke dalam dan ke luar negeri sehingga bisa ikut menjaga artefak-artefak, keris-keris tua, untuk tidak lari ke luar negeri,” kata Nurjianto yang juga menjabat sebagai Wasekjen Senapati Nusantara.

Bertepatan dengan MAS 2022, Senapati Nusantara menyepakati kerjasama penyusunan Perda Rencana Strategis Pengembangan Keris dengan Pemkab Sumenep, Jawa Timur. Program perdana ini nantinya bisa dicontoh oleh seluruh daerah Indonesia guna mengembangkan keris dan tosan aji. 

“Sebagai daerah yang berani menyebut sebagai ‘Kota Keris’, Sumenep membutuhkan regulasi untuk memberdayakan 700-an empu dan pengrajin. Sehingga penting untuk dibuat rencana peningkatan kualitas SDM-nya,” katanya. 

Ketua Senapati Nusantara, MM Hidayat, menyebut puncak dari MAS 2022 kali ini membedah strategi untuk memberi pemahaman pada pemerintah terutama Kemendikbud untuk segera menetapkan 25 November, hari disahkannya keris sebagai warisan tak benda oleh Unesco, sebagai Hari Keris Nasional.

“Tergabung dalam 73 paguyuban, penggemar keris yang tergabung di Senapati Nusantara berasal dari seluruh penjuru Nusantara; dari Jawa Timur, Bali, Lombok, Sulawesi, Sumatera, Jakarta, Jabar, Solo, Semarang, dan daerah-daerah lainnya,” katanya.

Selain menghadirkan bursa keris lewat 160 stand, Hidayat mengatakan pihaknya juga menggelar pameran beberapa keris langka seperti dua keris dari era Majapahit, yakni Keris Naga Sasra bergelar Shang Hyang Antaboga dan Keris Kyai Sekar Anggrek.

“Ini keris-keris langka dan berusia ratusan tahun,  termasuk dari era pasca-Majapahit yakni era Demak, Pajang, dan Mataram Islam,” sebutnya.