Home Kesehatan Mengenal Virus Cacar Monyet, Bagaimana Penyebarannya dan Gejala yang Muncul

Mengenal Virus Cacar Monyet, Bagaimana Penyebarannya dan Gejala yang Muncul

Jakarta, Gatra.com – Virus cacar monyet sempat ditemukan di Indonesia beberapa waktu lalu sebanyak 1 kasus dan terkonfimasi sudah sembuh berdasarkan hasil PCR negatif oleh Kementerian Kesehatan. Virus ini ditemukan pada monyet di laboratorium Denmark pada 1958 dan pertama kali menjangkit manusia pada 1970 di Kongo.

Data kasus Monkeypox menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per 12 September 2022 menunjukkan bahwa di dunia ada 54.911 kasus. Di Asia Tenggara, cacar monyet muncul di Filipina sebanyak 4 kasus, Singapura 16 kasus, Thailand 7 kasus dan Indonesia sebanyak 1 kasus terkonfirmasi, meskipun memiliki 23 kasus suspek.

Hanny Nilasari, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUI dan RSCM menyampaikan penyakit cacar monyet dapat teridentifikasi dengan ruam akut (papula, vesikel dan/atau pustula). Gejala yang ditimbulkan antara lain sakit kepala, demam akut lebih dari 38,5 derajat Celcius, kelenjar getah bening membesar, nyeri otot, sakit punggung dan lemahnya tubuh sebagaimana yang disampaikan dalam webinar “Mengenal Penyakit Monkeypox dan Penatalaksananya”, Jumat (16/09) lalu.

Selain itu, penderita memiliki hubungan epidemiologis dari paparan tatap muka, kontak fisik langsung dengan kulit atau lesi kulit seperti kontak seksual, kontak dengan benda yang terkontaminasi seperti pakaian, tempat tidur atau peralatan pada kasus probable atau konfirmasi pada 21 hari sebelum timbulnya gejala, adanya riwayat perjalanan ke negara endemis Monkeypox pada 21 hari sebelum timbul gejala dan hasil uji serologis orthopoxvirus menunjukkan positif, namun tidak ada riwayat vaksinasi smallpox ataupun infeksi orthopoxvirus.

Kasus suspek yang dinyatakan positif terinfeksi virus monkeypox dibuktikan dengan hasil pemeriksaan laboratorium PCR dan/atau sekuensing. Secara epidemiologis, cacar monyet lebih banyak menular melalui pasangan sesama jenis, penyakit seksual berbahaya dan orang yang mengidap HIV.

Transmisi infeksi monkeypox dapat melalui droplet traktus respiratorius, kontak erat dengan lesi kulit atau cairan tubuh, benda yang terkontaminasi seperti pakaian dan kain linen, plasenta dari ibu yang terinfeksi, binatang atau produk binatang dan hubungan seksual. Masa inkubasi yang tidak infeksius berlangsung selama 5-21 hari. Transmisinya dimulai saat muncul gejala prodromal sistemik hingga krusta rontok.

Gejala prodromal cacar monyet yang muncul antara lain demam, limfadenopati, letargi, myalgia, nyeri kepala dan nyeri tenggorokan. Kemudian, ruam vesikulopustular muncul dengan rasa nyeri dan adanya umbilikasi. Ruam menyebar dari wajah, kemudian menyebar secara sentrifugal. Lokasi gejala monkeypox yang muncul berada di wajah, telapak tangan dan kaki, membran mukosa oral, genitalia dan kornea.

Pada hari pertama dan kedua, ruam muncul berupa titik merah rata. Titik-titik tersebut menjadi keras dan muncul cembungan. Cembungannya semakin besar seperti lepuhan berisi air. Pada hari kelima hingga ketujuh, lepuhan berisi nanah. Pada hari ketujuh hingga keempat belas, titik-titik tersebut mengeras dan menjadi koreng yang akhirnya lepas.

Berkembangnya lesi melalui tahapan stadium dan lesi generalisata muncul pada cacar monyet klasik. Sementara yang atipikal lesinya muncul di berbagai stadium, lesinya terlokalisir, ada gejala prodromal ringan dan 64 persen berjumlah kurang dari 10 lesi di kulit.

Dalam manifestasi klinis wabah 2022, lesi anogenital muncul sebesar 73 persen dengan rasa lesi tidak nyeri, limfadenopati inguinal unilateral nyeri, 10 persen lesi tunggal, 10 persen palmar dan plantar dan lesi muncul 55 persen di badan, lengan dan tungkai serta 25 persen di wajah.

Pada alat kelamin, lesi perianal, anal dan rektal muncul dengan persentase 12 persen dengan tanda proktitis seperti nyeri anorektal, tenesmus dan diare.

Lesi yang muncul di wajah terdapat di mulut, bibir, dagu, hidung, lidah dan langit mulut berupa lesi mukosa yang menyebabkan gangguan makan, 5 persen orofaringitis dan komplikasi edema tonsil, abses tonsil dan disfagia.

“Kemudian kalau kita bisa lihat dari lesi kemudian laboratorium tesnya, ternyata laporan penelitian monkeypox ini masih sangat terbatas dan pada tahun 1983 dan 2017 disampaikan bahwa pada laboratorium tesnya itu terdeteksi virus monkeypox dan kemudian lesinya berkisar antara 16 hingga seribuan. Jadi kalau kita lihat disini manifestasi lesinya agak bervariasi. Kemudian, kalau kita lihat juga dari kelainan klinisnya diidentifikasi bahwa varian yang didapatkan antara lain strain yang Congo Basin,” jelasnya jika monkeypox terjangkit pada ibu hamil.

“Tercatat bahwa 41 persen HIV ini ditemukan infeksi virus monkeypoxnya, dan 29 persen seperti yang tadi sudah dilaporkan ini memiliki riwayat infeksi menular seksual,” lanjutnya.

Komplikasi cacar monyet yang berujung kematian antara lain di usia muda, ensefalitis atau infeksi otak dan limfoma.