Home Politik Formappi: Sunyinya Proses Seleksi BPK Disengaja DPR?

Formappi: Sunyinya Proses Seleksi BPK Disengaja DPR?

Jakarta, Gatra.com - Peneliti Formappi Lucius Karus menyebut proses seleksi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2022-2027 nyaris tanpa jejak yang jelas. 

Ia pun mempertanyakan proses, yang menurutnya tiba-tiba telah menyentuh tahap akhir, yakni dengan proses fit and proper test hari ini, Senin (19/9).

"Tiba-tiba saja sudah di tahap akhir, fit and proper test. Bagaimana proses pendaftaran hingga rangkaian seleksi terhadap para calon selama ini tak banyak diperbincangkan, baik oleh publik, juga DPR sendiri," jelas Lucius Senin (19/9).

Ia menilai, minimnya perhatian publik akan proses tampak aneh. Pasalnya, keseluruhan proses seleksi itu terjadi di DPR RI, yang mana merupakan lembaga yang selalu menjadi buah bibir publik sekaligus merupakan representasi rakyat.

Baca Juga: Koordinator Save BPK: Komisi XI DPR Diduga Terlibat Polemik Seleksi Calon Anggota BPK

Lucius curiga, sunyinya proses seleksi tersebut merupakan suatu hal yang disengaja oleh DPR RI. Hal itu ia utarakan, dengan berkaca pada proses-proses seleksi anggota BPK terdahulu yang pernah dilakukan DPR RI.

"Hasil akhir berupa keterpilihan Anggota BPK yang didominasi oleh kader parpol selama ini adalah jawaban jelas dari proses seleksi yang minim pelibatan publik," jelas Lucius.

Baca Juga: Formappi Nilai Fungsi Anggaran DPR Tak Jalan

Lucius menduga bahwa proses seleksi kali ini akan berpotensi menuai hasil akhir berupa terpilihnya anggota BPK yang berlatar belakang kader partai politik. Ia pun mengatakan bahwa minimnya perhatian publik tadi menjadi suatu celah untuk menjalankan proses seleksi yang dinilainya hanya sebatas sandiwara, guna menunjukkan bahwa proses seleksi telah memenuhi syarat formil sebagaimana diperintahkan undang-undang.

"Hasil akhirnya calon-calon yang bisa dititipkan kepentingan parpol yang akan menang," terang Lucius.

Lucius juga menilai bila proses yang minim partisipasi publik itu menjadi ajang pemilihan yang transaksional, yang akan menjadikan "modal" sebagai penentu hasil akhir.

"Baik urusan kepentingan politik, maupun urusan suap-menyuap untuk membeli suara dukungan anggota DPR, semuanya menjadi mungkin terjadi pada sebuah proses yang serba sepi dari perhatian publik, seperti seleksi anggota BPK kali ini," jelasnya.

Lucius menilai, pemilihan anggota BPK akan sangat menentukan kredibilitas kinerja BPK. Lucius berharap, agar semua catatan proses seleksi anggota BPK yang tidak transparan dan transaksional di DPR RI dapat dicegah pada proses pemilihan hari ini, Senin (19/9).

Baca Juga: Koalisi Masyarakat SIpil Minta Presiden Pantau Seleksi BPK

Lucius menyarankan, agar Komisi XI menjadikan agenda fit and proper test ini sebagai ajang untuk memperlihatkan kepada publik, mengenai komtitmen mereka atas pengelolaan keuangan negara yang bersih dan akuntabel dengan uji kelayakan sungguhan.

"Panggung fit and proper (test) harus menjadi sumber bagi keputusan akhir. Jangan jadikan fit and proper sebagai drama saja, sementara keputusan akhir ditentukan berdasarkan jatah parpol dan seberapa besar suap yang diberikan oleh kandidat," terang Lucius.