Home Gaya Hidup Desa Budidaya Bougenvile, Penduduknya Bisa Raih Puluhan Juta per Bulan

Desa Budidaya Bougenvile, Penduduknya Bisa Raih Puluhan Juta per Bulan

Purworejo, Gatra.com - Bunga bougenvile, atau disebut juga bunga kertas saat makin banyak yang menyukainya. Tak heran, jika bermunculan petani budidaya dan penjual-penjual bunga berwarna warni ini.

Mungkin tak banyak yang tahu, jika bunga bougenvile memiliki ratusan jenis atau oleh kalangan pecinta dan pembudidaya disebut dengan ID (identity). Perawatan tak sulit dan harga stabil menjadi alasan Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Tunjungan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah mantab menawarkan paket wisata edukasi belajar budidaya bougenvile.

Baca juga: Imbas Bantu Sambo, Giliran Iptu Januar Jalani Sidang Etik Hari Ini 

Saat kegiatan uji coba one day tour dalam rangka penilaian desa wisata oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Porapar) Kabupaten Purworejo, ternyata budidaya dilakukan oleh anak-anak muda Desa Tunjungan. "Bougenvile memiliki lebih dari 300 ID. Di tempat kami, ada yang impor dan ada yang lokal. Kami menjual bougenvile secara online ke seluruh Indonesia dan offline biasanya pengunjung datang langsung ke sini," kata Ketua Pokdarwis, Suyanto, Selasa (20/09/2022).

Tanaman di lahan halaman rumah Hendi Rohmadi misalnya, memiliki kurang lebih 100 jenis bougenvile. "Paling mahal adalah jenis kayata india dan citra stripe, untuk bibit setinggi dua jengkal harganya bisa mencapai Rp250.000. Paling murah biasanya adalah bougenvile lokal dengan harga Rp25.000 per batang. Harga dipengaruhi oleh banyak dan lamanya pembiakan serta tingkat kesulitannya," tambah Suyanto.

Baca juga: Kemnaker Siap Selenggarakan Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan G20 di Bali 

Dari berjualan bunga kertas ini, Hendi Rohmadi bisa mengantongi Rp50 juta hingga Rp80 juta tiap bulannya. Ada 17 warga yang menjadi pengusaha budidaya bunga kertas dengan omset berbeda-beda.

Bahkan Pokdarwis juga giat membagikan bibit bunga bougenvile pada warga agar ditanam di lahan mereka. Tujuannya sebagai penyedia inang bougenvile yang akan disetek atau disambung. Jenis bougenvile yang dibudidayakan petani Desa Tunjungan antara lain black maria, SJ mini, fatimah, selendang sutera ungu, ekor musang putih, ekor musang merah dan pink, bengawan solo, es krim, SJ buterfly dan banyak lainnya.

Baca juga: Deputi Administrator USAID Berkunjung ke Indonesia, Hadiri Pertemuan Tingkat Menteri Pembangunan G20 

Pokdarwis menawarkan paket wisata bagaimana cara budidaya bougenvile, mulai dari penyetekkan hingga pengemasan jualnya. Wisatawan juga akan disuguhi hidangan kuliner khas desa setempat. Total ada 25 tempat yang ditawarkan dalam paket one day tour, ada bougenvile, peternakan kelinci, pembuatan dawet ireng, pembuatan thiwul serta lainnya.

Kabid Pemasaran Pariwisata, Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Porapar Kabupaten Purworejo, Endah Hana Rosanti menerangkan bahwa, kegiatan ini adalah dalam rangka penilaian pariwisata di Desa Tunjungan yang mengajukan diri jadi desa wisata. "Hari ini kita uji paket wisatanya sudah layak jual atau belum. Untuk Desa Tunjungan ini, sudah layak jual, dengan salah satu potensinya adalah budidaya tanaman hias bougenvile," kata Endah.

Karena maaih rintisan, maka hanya ditawarkan paket wisata sehari, belum live in (menginap). Harga yang dipatok untuk dapat beriwsata edukasi belajar budidaya bougenvile, membuat dawet, tiwul dan lainnya adalah Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.