Home Ekonomi BI Naikkan Suku Bunga untuk Hadapi Situasi Ekonomi Global

BI Naikkan Suku Bunga untuk Hadapi Situasi Ekonomi Global

Jakarta, Gatra.com – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5,00%. Kerputusan ini dilandasi hasil proyeksi BI bahwa situasi ekonomi dunia di tahun ini masih akan mengalami penurunan.

“Ini dilakukan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (22/9).

Baca juga: Saham Wall Street Jatuh: Dollar AS Menguat, Suku Bunga Naik

Peningkatan suku bunga yang dilakukan oleh Fed Fund Rate menjadi dasar kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh BI demi menjaga nilai tukar rupiah.Selain itu, keputusan kenaikan suku bunga diambil oleh BI sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3,0±1% pada paruh kedua 2023.

Kebijakan lain yang diambil oleh BI adalah melanjutkan penjualan/pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder (operation twist). Hal ini didasari selama pelaksanaan operation twist yang dilakukan, terbukti telah mendorong imbal hasil SBN tenor jangka pendek meningkat dan membuat imbal hasil SBN tenor jangka panjang relatif terjaga.

Baca juga: Pemerintah Optimis Target Inflasi Pangan Di Bawah 5%, Begini Kata Pakar

BI juga akan melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman pada aspek profitabilitas bank. Ini dilatarbelakangi oleh pertumbuhan kredit pada Agustus 2022 tercatat sebesar 10,62% (yoy) yang telah berkontribusi dalam pemulihan ekonomi.

“Dari sisi penawaran, berlanjutnya perbaikan intermediasi perbankan didukung oleh standar penyaluran kredit yang tetap longgar, seiring membaiknya appetite perbankan dalam penyaluran kredit terutama di sektor Pertanian, Industri, Konstruksi, dan Perdagangan,” ungkap Perry.

Baca juga: Airlangga Klaim Ekonomi Indonesia Tunjukkan Tren Positif, Pengamat Ingatkan Inflasi Berat

Perry juga menyatakan akan mendorong percepatan dan perluasan implementasi digitalisasi pembayaran di daerah melalui pemanfaatan momentum pelaksanaan dan penetapan pemenang Championship Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD). Berdasarkan data yang dihimpun BI, nilai transaksi uang elektronik (UE) pada Agustus 2022 tumbuh 43,24% (yoy) dan mencapai hingga Rp 35,5 triliun.

Kenaikan nilai transaksi digital banking meningkat 31,40% (yoy) menjadi Rp 4.557,5 triliun yang turut dipengaruhi mobilisasi masyarakat. Penggunaan QRIS serta BI-FAST juga akan didorong oleh BI dalam transaksi yang dilakukan masyarakat.