Home Kesehatan Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

Jakarta, Gatra.com - Ketua Ilmiah 31st ASMIHA, dr. Siska S. Danny, menerangkan jika Indonesia termasuk negara yang paling banyak angka kematiannya yang disebabkan oleh stroke dan penyakit jantung koroner.

"Penyebab kematian utama di Indonesia dari 10-15 tahun yang lalu sampai sekarang polanya gini-gini aja, antara stroke dan penyakit jantung iskemik (koroner)," ucapnya pada saat Virtual Press Conference 31st Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) yang diselenggarakan melalui Zoom, Jakarta, Kamis (22/9).

Ia menjelaskan sedikit tentang penyakit jantung koroner adalah penyakit yang mengenai pembuluh darah koroner. Pembuluh darah koroner adalah yang memberi makan dan suplai oksigen ke otot-otot jantung.

Baca Juga: Faktor Keturunan Tak Melulu Jadi Penyebab Percepatan Penyakit Jantung

Jadi, jika seseorang yang didiagnosa serangan jantung akut dapat dilihat dari 3 komponen berikut yang dikemukakan oleh dr. Siska.

"Yang pertama umumnya yang paling sering dikeluhkan adalah nyeri di dada yang hebat biasanya disertai dengan sesak nafas, keringat dingin, mual/muntah, juga pingsan. Yang kedua memeriksa ekokardiografi (EKG) atau rekam jantung ke rumah sakit. Dan yang ketiga berusaha menangkap apakah terdeksi protein jantung di dalam darah," jelasnya.

Berdasarkan data pencatatan PERKI dari tahun 2018-2019 setidaknya ada sekitar 7 ribu pasien lebih dengan berbagai macam serangan jantung. Yang pertama STEMI (ST Segment Elevation Myocardial Infarction) yaitu serangan jantung yang klasik dan sering dialami pasien dikarenakan adanya sumbatan total di satu atau lebih pembuluh darah koroner. Yang kedua jenis NSTEMI (Non-ST Segment Elevation Myocardial Infarction) umumnya terjadi sumbatan tapi tidak total di pembuluh darah.

Baca Juga: Kemenkes Siapkan Fasilitas Klinik dan ICU Menyambut Peserta G20 di Bali

Dari data yang sudah disebutkan sebelumnya jika penderita serangan jantung sebagian besar adalah laki-laki sebanyak 83,5%. Meskipun yang perempuan tidak banyak penderita jantung, namun perempuan memiliki angka kematian yang tinggi sekitar 2 kali lipat dibanding laki-laki.

"Di Indonesia sendiri perhitungan mediannya sekitar 57 tahun jauh lebih muda ketimbang di negara Amerika dan Eropa sekitar 60-65 tahun dalam penderita penyakit jantung," tambahnya.

"Salah satu faktornya ialah terdapat 65% dari pasien serangan jantung adalah perokok. Lalu, 51% penyakit hipertensi, dan 27% penyakit diabetes bersamaan juga dengan kolesterol, overweight, gaya hidup yang kurang aktivitas. Itu semua yang berkontribusi terhadap pengingkatan resiko serangan jantung," tutupnya.

Akibat dari tingginya angka kematian terhadap penyakit jantung, membuat keprihatinan bagi masyarakat dan terkhusus pada Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Untuk itulah mereka mengadakan Virtual Press Conference ini sekaligus ingin meluncurkan 5 buku panduan yang dikeluarkan pada tahun 2021 dan 2022, yaitu panduan diagnosis dan tata laksana hipertensi paru, panduan kelayakan pemeriksaan EKG dalam lingkup kesehatan, dan lain-lain.