Home Nasional Perjalanan Resimen Mahasiswa Dari Kemerdekaan hingga Reformasi

Perjalanan Resimen Mahasiswa Dari Kemerdekaan hingga Reformasi

Jakarta, Gatra.com – Keberadaan Resimen Mahasiswa (Menwa) tidak lekang oleh waktu. Sejak kelahirannya di masa orde lama hingga sekarang, Menwa bertahan sebagai organisasi kampus yang andil dalam mengatasi masalah kebangsaan. Hal tersebut mengakar dan mentradisi karena Menwa berawal dari kepedulian kaum terpelajar Indonesia yang terpanggil menghadapi masalah yang dialami negara.

Anggota Senior Menwa, Budiono Kartohadiprojo menyatakan, Menwa mengalami sejarah panjang mulai dari zaman kemerdekaan hingga reformasi. “Ada barisan kaum terpelajar yang peduli dengan kemerdekaan. Maka lahir pada saat itu Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Tentara Pelajar Siliwangi, korps mahasiswa dan sebagainya,” ujar Budiono Kartohadiprojo kepada Gatra.com belum lama ini.

Menwa menurutnya dapat diartikan sebagai kekuatan sipil yang terdidik dan terlatih yang dipersiapkan untuk mempertahankan NKRI dari gangguan sebagai perwujudan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Pengakuan kedaulatan RI sebagai hasil Konfensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949 di Den Haag diharapkan menjadi akhir perjuangan bersenjata bangsa Indonesia melawan penjajah.

Namun di dekade 1950-an, perjalanan bangsa dan negara mengalami sejumlah ancaman. Pemberontakan demi pemberontakan meletus di tengah perjuangan, antara lain Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) pimpinan Kartosoewirjo, Daud Beureueh di Aceh, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, dan Amir Fatah di Jawa Tengah.

“Semua sudah ditumpas kecuali Kartosuwiryo di Jawa Barat karena dia menguasai medan di situ. Untuk menuntaskan pemberontakan Kartosuwiryo yang susah ditumpas maka dibentuk operasi pagar betis,” Budiono menjelaskan.

Operasi Pagar Betis yang mengepung markas pemberontak di Gunung Geber menjadi operasi pertama dalam Sishankamrata yang melibatkan sipil-militer. Atas pertimbangan meredam gejolak dari dalam negeri, pemerintah saat itu membentuk sistem semi militer yang dinamai sebagai Walawa (Wajib Latih Mahasiswa) yang berpusat di Bandung. Pada 13 Juni 1959 dibentuk batalion Walawa 59 yang dididik di Kodam VI/Siliwangi sekaligus menjadi cikal bakal Menwa hingga sekarang.

Dua tahun setelahnya, Presiden Soekarno mencetuskan Trikora dalam upaya merebut Irian Barat (sekarang Papua), di mana Walawa juga dilibatkan. “Kemudian, mereka (Menwa) ini terlibat hampir di semua kegiatan operasi negara. Seperti kita terlibat di Trikora, Dwikora, dan G30S/PKI,” kata Budiono yang telah bergabung dengan Menwa sejak 1964.

Di masa Orde Baru, Menwa juga dilibatkan sebagai bagian Pasukan Kontingen Garuda ke Timur Tengah, dan operasi teritorial di Timor Timur. Di era reformasi, Menwa menjadi wadah berbasis kampus, namun sebagian besar kegiatannya terfokus di luar kampus seperti perlindungan masyarakat (Linmas), tanggap bencana, kajian pertahanan, dan kegiatan sosial lainnya.

Keberadaan Menwa dalam pembinaan Kemhan tidak berlangsung lama. Pasca reformasi, Pemerintah menerbitkan SKB Tiga Menteri (Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah) Tahun 2000 tentang Pemberdayaan dan Pembinaan Resimen Mahasiswa. Sejak itu, Menwa berada di bawah pembinaan perguruan tinggi sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa.

“Setelah keluarnya SKB Tiga Menteri Tahun 2000 kedudukan Menwa menjadi tidak jelas. Mengakibatkan ada anggota kita yang masuk ke dalam kegiatan kepartaian dan Menwa kemudian berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan parpol,” pungkas mantan Ketua Umum Persatuan Pusat (PP) Korps Menwa Indonesia itu.