Home Regional Buntut Perbaikan Dua Jembatan di Sukoharjo, Jembatan Sasak Kini jadi Alternatif Warga

Buntut Perbaikan Dua Jembatan di Sukoharjo, Jembatan Sasak Kini jadi Alternatif Warga

Sukoharjo, Gatra.com – Jembatan sasak di Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo sekarang menjadi pilihan rute masyarakat bepergian. Hal itu terjadi setelah Jembatan Jurug B ditutup. Terlebih pada 26 September 2022, pemerintah setempat berencana untuk melakukan perbaikan Jembatan Mojo.

Jembatan yang terbuat dari bambu tersebut mempunyai panjang 80 meter. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo dengan Kelurahan Sewu, Kota Solo.

Yuli, warga Gadingan, mengatakan, jembatan sasak baru beroperasi sekitar dua hingga tiga minggu terakhir. Di mana sebelumnya, warga yang menyeberang menggunakan perahu.

“Kemarin percobaan cuma pakai tiang di jembatannya, ini sama pemborong diganti menggunakan ember,” kata Yuli saat ditemui Gatra.com di lokasi Jembatan Sasak pada Jumat (23/9).

Menurutnya, keberadaan Jembatan Sasak ini sangat membantu aktivitas masyarakat. Khususnya bagi pelajar yang mayoritas menempuh pendidikan di Kota Solo.

“Sangat membantu sekali, apalagi tanggal 26 besok Jembatan Mojo akan ditutup total, jadi kemungkinan pengalihan arus lewat sini,” Yuli menerangkan.

Ia menyebut, dalam proses pembangunan pihak pemborong berencana akan menambah satu lajur lagi. Sehingga terdapat dua jalur kanan dan kiri.

“Akan ada dua sisi, utara dan selatan, biar tidak antre,” ujarnya.

Bagi warga yang melewati Jembatan Sasak ini, dikenakan tarif Rp2000 per sekali jalan. Petugas secara gantian melakukan penjagaan selama 24 jam. Tugas mereka yakni mengatur lalu lintas penyeberangan hingga menjaga kondisi jembatan agar tidak terjadi insiden.

“Ada yang ngatur, karena kalau terlalu banyak jembatan bergoyang lebih kencang,” Yuli menambahkan.

Jembatan Sasak dibuat dari sekitar 100 bambu, 34 drum atau tong. Selanjutnya dirakit kurang lebih dua minggu. Anggaran pembuatan jembatan ini sekitar Rp20 juta. Dana tersebut untuk membeli sasak, bambu, drum, paku, kawat buat mengikat hingga buat tenaga yang membantu.

Sementara itu salah satu warga, Mars Farjianto mengaku senang adanya jembatan sasak ini. Keberadaan jembatan membuat gerak masyarakat lebih cepat jika dibandingkan naik perahu.

“Lebih cepat lah jika harus naik perahu. Ini kan tinggal menyeberang dan sangat membantu sekali,” ucap Mars semringah.

Ia tidak merasa takut pas menyeberang, karena sudah terbiasa lewat. “Tidak takut, biasa saja. Malah bagus ada jembatan sasak ini, biasa buat foto-foto juga,” tandasnya.

57