Home Sumbagteng Sempat Bersitegang, Harga TBS Riau Ditetapkan Tanpa BOTL

Sempat Bersitegang, Harga TBS Riau Ditetapkan Tanpa BOTL

Pekanbaru, Gatra.com - Air muka Kabid Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau itu mulai berubah.

Soalnya kemarin, meski rapat penetapan harga Tandan Buah Sawit (TBS) periode 28 September-4 Oktober 2022 di ruang rapat lantai dua kantor Disbun di kawasan jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru itu sudah berlangsung dari pukul 10 pagi, tapi sampai lepas zuhur, masih belum bisa juga berujung kesimpulan.

Penyebabnya, perwakilan perusahaan yang ikut dalam penetapan harga itu ngeyel agar komponen Biaya Operasional Tidak Langsung (BOTL) sebesar 2,63%, tetap dimasukkan.

"Enggak bisa lagi. Sepanjang laporan pertanggungjawaban penggunaan BOTL ini, belum ada, kita nol kan dulu," kata Defris Hatmaja sambil menengok para perwakilan perusahaan tadi.

Yang ditengok tak bisa langsung menjawab, di antaranya malah yang ada permisi keluar untuk menelepon pimpinannya. "Kami akan susulkan laporan pertanggungjawaban itu Pak. Jadi komponen BOTL ini kita masukkan saja dulu," pinta orang yang permisi keluar tadi.

Mendengar permintaan itu, Defris bergeming. "Dari dua tahun lalu kami minta laporan pertanggungjawaban itu enggak kunjung ada. Sepanjang itu belum ada, kita nol kan saja dulu," lelaki 41 tahun ini mengulangi omongannya.

Walau ayah dua anak ini bersikukuh menolkan BOTL tadi, perwakilan perusahaan itu masih terus membujuk dan bahkan berujung bersitegang hingga waktu rapat terus molor sampai jelas ashar.

Inilah yang membuat Mahasiswa Program Doktoral Administrasi Publik Universitas Riau mulai jengkel. "Ini sudah sore. Saya minta BOTL ini dinolkan dulu!" suara lelaki ini meninggi.

Tahu suasana mulai tak elok, para perwakilan perusahaan tadi gelagapan sembari mengiyakan meski air muka mereka menunjukkan rasa keberatannya.

Singkat cerita, harga TBS pun ditetapkan. Lantaran komponen BOTL tak masuk, harga TBS Riau pun terdongkrak naik Rp57 perkilogram.

"Lepas ashar baru harga TBS bisa ditetapkan. Kalau komponen BOTL tadi tetap dimasukkan, harga TBS akan turun Rp7 perkilogram dari harga periode lalu," cerita Defris kepada Gatra.com tadi malam.

Berujung nol nya BOTL tadi akhirnya menjadi catatan sejarah baru bagi industri perkelapasatiwan di Riau sepanjang Dinas Perkebunan Riau reborn tiga tahun lalu.

Sebetulnya kata Defris, Disbun Riau tak keberatan komponen BOTL masuk dalam skenario penetapan harga TBS itu bila laporan pertanggungjawaban penggunaan uang BOTL tadi sudah ada.

"Ini kan selalu tak ada saat kami minta pada rapat penetapan harga. Memang, ada beberapa kali perwakilan petani plasma mengaku kalau mereka kecipratan uang BOTL itu. Tapi itu tadi, laporan pertanggungjawabannya enggak ada terus," ujar Defris.

Berikut hasil penetapan harga TBS Kelapa Sawit Riau periode 28 September-4 Oktober 2O22 itu:

Umur 3th (Rp 1.869,16);

Umur 4th (Rp 2.024,02);

Umur 5th (Rp 2.211,40);

Umur 6th (Rp 2.264,47);

Umur 7th (Rp 2.352,89);

Umur 8th (Rp 2.417,82);

Umur 9th (Rp 2.474,45);

Umur 10th-20th (Rp 2.532,24);

Umur 21th (Rp 2.425,06);

Umur 22th (Rp 2.412,93);

Umur 23th (Rp 2.402,82);

Umur 24th (Rp 2.301,71);

Umur 25th (Rp 2.246,10);

Indeks K : 91,70%

Harga CPO Rp 11.025,87

Harga Kernel Rp 6.399,49

Naik Rp57,09 perkilogram atau 2,31% dari hasil penetapan harga pekan lalu untuk kelompok umur 10-20 tahun.

"Ada beberapa faktor yang membikin kenaikan harga ini terjadi. Dari faktor internal, turun dan naiknya harga jual Crude Palm Oil (CPO) dan kernel perusahaan yang menjadi sumber data, menjadi penyebabnya," terang Defris.

Sementara oleh faktor eksternal, harga komoditas minyak sawit mentah atau CPO, naik di sesi perdagangan minggu ini.

Kenaikan ini terjadi kata Defris lantaran terjadi lonjakan ekspor ke India yang selama ini dikenal sebagai importir utama CPO dunia. Lonjakan itu terjadi karena India sedang siap-siap menghadapi festival Diwali bulan depan.


Abdul Aziz

98