Home Nasional Pematung Abstrak Pertama Indonesia Raih Maestro Seni Anugerah Kebudayaan Sumbar 2022

Pematung Abstrak Pertama Indonesia Raih Maestro Seni Anugerah Kebudayaan Sumbar 2022

Padang, Gatra.com - Momentum Hari Jadi ke-77 Sumatera Barat (Sumbar), 1 Oktober 2022 lalu bagian catatan sejarah kebudayaan di Ranah Minang. Betap tidak, sebanyak 5 tokoh seniman Minang diganjar Anugerah Kebudayaan Sumbar 2022.

Salah seorang yang menerima penghargaan bergengsi itu, Arbi Samah pada Kategori Maestro Seni di Tanah Air. Kendati telah 'berpulang' 2017 lalu, namun jasa seniman patung abstrak Indonesia itu tak tenggelam begitu saja. Justru, penghargaan inilah salah satu cara mengenangnya.

"Saya sebenarnya cukup kaget, ternyata Bapak (Arby Samah), menerima penghargaan dari pemerintah Sumatera Barat," ucap perwakilan keluarga, Anita Dikarina penuh haru kepada Gatra.com, Senin (3/10) di Padang.

Dengan mata berkaca-kaca, anak kedua tokoh seniman Minang itu menuturkan, Anugerah Kebudayaan 2022 ini merupakan bentuk apresiasi Pemprov Sumbar atas jasa dan karya-karya ayahnya sebagai pelaku seni pematung abstrak pertama Indonesia.

Sebaliknya, dia juga tak menampik dan mengakui banyak karya seniman-seniman berdarah Minang lain yang tak kalah hebat, bahkan lebih dulu, atau generasi setelahnya. Hanya saja, dalam bentuk karya yang berbeda, seperti seni tradisi, seni pertunjukkan di Sumbar, dan lainnya.

"Selaku maestro seni rupa, apalagi pematung abstrak pertama Indonesia, bapak (Arby Samah) memang layak mendapatkannya. Tapi jika ada faktor lain dalam menerima penghargaan ini, saya tak tahu," ujarnya.

Jika dibaca dari berbagai catatan, tokoh maestro seni berdarah Minang bernama lengkap Arby Samah Datuak Majo Indo ini, lahir di Tanah Datar 1 April 1933 pada zaman Hindia Belanda. Dia memang dicatat sebagai seniman pematung beraliran abstrak pertama di Indonesia.

"Sekali abstrak maka tetap abstrak," itulah kalimat yang terkenal pernah diucapkan seorang Arby Samah semasa hidupnya. Berbekal kemampuan dan konsistensi dalam berkarya, Arby tak hanya pematung abstrak pertama di Tanah Air, sekaligus juga menara seni patung modern Indonesia.

Arby mulanya mengenyam pendidikan di Indonesisch Nederlansche School (INS) Kayu Tanam, Padang Pariaman. Ia bahkan juga pernah ikut angkat senjata sebagai tentara pelajar divisi INS Kayu Tanam, antara tahun 1948-1950. Setelah itu, dia bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Solok Selatan.

Kemudian, Arby melanjut studinya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1953. Pada saat di ASRI yang kini dikenal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta inilah, seorang Arby menimba ilmu melukis dan sketsa dari pelukis ternama, Hendra Gunawan.

Ia memang lebih dikenal sebagai pematung dibanding melukis. Padahal, sejak dulu kedua aktivitas seni itu tetap berjalan beriringan. Semasa di ASRI Yogyakarta, dia juga pernah menjadi pelukis jalanan dengan lukisan-lukisan realis di titik ikon terkenal kota Yogyakarta, yakni Jalan Malioboro dan Stasiun Tugu.

Lukisan Arby dipuji banyak tokoh-tokoh seni Indonesia, seperti Sudarso, Widayat, Trubus, dan Hendra Gunawan. Karir seninya kian bersinar, hingga menggelar pameran tunggal di Galeri Lontar, Duta Fine Art Foundation, dan Galeri Nasional Indonesia. Karyanya, Minangkabau menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia.

Buah Tabah Dihantam Badai
Tak ada pokok tanpa dihantam badai. Risiko hidup di dunia, banyak yang cinta banyak yang benci. Begitu pula hidup yang dirasai Arby Samah. Pada tahun 1955-1957, saat karirnya menanjak, karya-karyanya pernah dicaci-maki banyak kalangan seniman dari aliran realisme-sosialis.

Betapa tidak, mayoritas seniman lainnya tengah bergelut dengan karya seni realisme, alumnus ASRI Yogyakarta itu justru menemui jalan lain. Ia memulai sesuatu yang baru. Karya abstrak jadi pilihannya, kendati mengandung risiko banyak tak disukai orang, sulit dimengerti, dan juga tentu sulit dijual.

Tak hanya seniman. Presiden Soekarno pun, bahkan menyatakan tak suka patung abstrak masa itu dalam acara pameran seni rupa Indonesia. Kendati badai begitu kencang, seniman berdarah Minang itu tak patah arang sedikit pun. Dia makin teguh, tetap konsisten, dan tak berpaling ke gaya yang lain.

"Ya, dari zaman Presiden Soekarno karya bapak (Arby Samah) pernah ditolak, karna patung karya bapak abstrak," tutur Anita saat diwawancara, sebelumnya Sabtu, (1/10) di Padang.

Dalam catatan, seniman kelahiran Pandai Sikek pernah menawarkan karyanya ke Presiden Soeharto tahun 1997, namun juga ditolak dengan alasan serupa. Tak suka patung abstrak. Ia tak bergeming. Baginya, karyanya bukan untuk presiden, tapi untuk menunjukkan kepada khalayak pecinta seni di Tanah Air.

Arby makin menggebu dalam seni abstrak. Terlebih banyaknya tawaran pameran. Tabahnya berbuah manis. Patung-patung abstraknya menjadi incaran banyak kalangan. Baik koleksi instansi, museum, hingga perseorangan. Bung Karno yang mulanya menolak patung abstrak, juga ikut mengoleksi salah satu patung karyanya.

"Kalau untuk di Sumbar, patung-patung karya bapak ada di Gedung Bagindo Aziz Chan, Taman Melati, Tugu di Kasang, dan Tugu di Payakumbuh," sebut Anita yang kini ASN aktif di BPBD Sumbar itu.

Diketahui, semasa hidup, suami Murtina itu, pernah bekerja sebagai tenaga sukarela di Gedung Kebudayaan Sumatera Tengah, Padang Panjang. Lalu sebagai pegawai di Museum Angkatan Darat di Yogyakarta, dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Direktorat Jenderal Kebudayaan di DKI Jakarta.

Setelah itu, Arby kembali ke Ranah Minang sebagai Kepala Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Sumbar (1971-1989). Tak hanya bidang seni, Arby juga berkiprah dalam dunia pendidikan sebagai Kepala SMSR Padang (kini SMKN 4 Padang) hingga pensiun tahun 1993. Sebelumnya, juga pernah menjadi guru di Padang Panjang, dan Bukittinggi.

"Terakhir bapak mengabdi di SMKN 4 Padang. Setelah itu bapak kembali aktif pameran patung dan lukis. Sayangnya, karena gempa di Sumbar 2009, patung-patung karya bapak hancur dan terbakar, itu yang menyedihkan," ungkapnya.

Kini, setelah 5 tahun 'kepulangannya', Arby Samah diganjar Anugerah Kebudayaan Sumbar 2022. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla di Gedung DPRD Sumbar pada momentum istimewa Tepatnya di Hari Jadi ke-77 Sumbar, sekaligus Hari Kesaktian Pancasila 2022.

Penghargaan ini kali pertama diterima almarhum Arby Samah selaku maestro seni rupa abstrak. Kendati begitu, nilai Anugerah Kebudayaan yang diberikan Pemprov Sumbar ini bukan sekadar sejarah dan kebanggaan bagi keluarga besar. Justru ini juga cambuk bagi regenerasi pelaku seni di Tanah Air masa depan, khususnya seniman muda di Sumbar.

"Kita berharap ada patung fundamental berdiri di Sumatera Barat. Sebab orang kita banyak jadi seniman atau pematung hebat, tapi saat ini belum ada patung untuk mengingatkan semua itu," tukas Anita.

Selain Arby Samah pada Kategori Maestro Seni, sejumlah tokoh juga menerima Anugerah Kebudayaan Sumbar 2022. Seperti Rustam Anwar (Kategori Pelestari), Ahmad Syafi'i Ma'arif (Kategori Pelestari), Asrul Datuak Kodo (Kategori Pelestari), dan Adri Sandra (Kategori Pencipta/Pelopor/ Pembaharu).

"Lalu anugerah juga diberikan kepada Kategori Komunitas, yakni Sanggar Seni Binuang Sati, dan Komunitas Seni Intro," ungkap Syaifullah, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar saat ditemui sebelumya di tempat berbeda.

76