Home Gaya Hidup Objects In Question Mella Jaarsma di ROH Gallery

Objects In Question Mella Jaarsma di ROH Gallery

Jakarta,Gatra.com - ROH Gallery menampilkan pameran tunggal Mella Jaarsma, “Performing Artifacts: Objects In Question”. Pameran ini menampilkan karya Jaarsma dalam kurun waktu 2010-2022 yang sebagian besar belum pernah dipamerkan di Indonesia. Pameran dibuka untuk publik 19 Oktober sampai 20 November 2022.

“Karya-karya di pameran ini fokus pada artefak, bagaimana hubungan manusia dengan objek. Karena saya sering bikin karya yang berhubungan dengan kostum yang digunakan manusia. Ini mempertanyakan kembali mengenai material alam, material palsu, material plastik,” ucap Mella dalam pembukaan pameran, Sabtu (15/10).

Karya "A Blinkered View - High Tea Low Tea" Mella Jaarsma di pameran Performing Artifacts: Objects In Question, ROH Gallery, Jakarta (Gatra/Eva Agriana Ali)
Karya "A Blinkered View - High Tea Low Tea" Mella Jaarsma di pameran Performing Artifacts: Objects In Question, ROH Gallery, Jakarta (Gatra/Eva Agriana Ali)

Karya Mella Jaarsma berjalan di persimpangan antara patung, busana, dan performans di dalam ragam jajaran permutasi. Sebagai seorang seniman yang lahir di Belanda namun telah menetap di Indonesia sejak memulai studinya di Institut Kesenian Jakarta pada 1984, karya Mella mencerap pandangan kritis akan identitas diaspora Belanda yang melekat pada dirinya.

Praktik multi-disiplin yang berpusat pada penjelajahannya konsisten terhadap penggunaan kostum sebagai simbol yang berkaitan dengan lapisan-lapisan kedudukan manusia, diantaranya: budaya, ras, tubuh jasmaniah, hal yang dikonsumsi, dan cara kita menghubungkan diri dengan dunia.

Baca Juga: Apresiasi Pertumbuhan OTT Lokal, Jakarta Film Week 2022 Hadirkan Series on Screen

Karya sepanjang waktunya di Indonesia telah dengan peka mendekati dan membangun percakapan mendalam dengan beragam komunitas di nusantara. Dari sini ia mengembangkan kekaryaan yang kritis meninjau berbagai aspek dari interaksi-interaksi yang terjadi.

Di pameran Performing Artifacts: Objects In Question, Mella salah satunya menampilkan karya berjudul “I Owe You”. Ini adalah hasil kerja jangka panjang yang dikembangkan dari residensi di Wina, Austria yang kemudian membawa ke komunitas yang hidup di Lembah Bada. Dalam karya instalasinya itu Mella melakukan reka ulang bentuk-bentuk pakaian masyarakat di sana yang dibuat dari kulit pohon.

“Mella menciptakan satu seri karya yang kompleks, tak hanya berkaitan dengan narasi, tetapi juga pada bagaimana citra-citra sejarah itu direkonstruksi,” tulis kurator pameran, Alia Swastika, dalam esai kuratorialnya.

Baca Juga: Teater Koma Hadirkan Lakon Roro Jonggrang di Taman Ismail Marzuki

Masih tentang kulit pohon, Mella juga menampilkan karya “Pertama ada Hitam”. Ini adalah karya kolaborasi dengan Agus Ongge, seorang seniman Papua yang menciptakan lukisan-lukisan kulit pohon.

Pada karya ini, Agus membuat beberapa lukisan dan dikirimkan ke Yogyakarta. Mella kemudian membentuknya menjadi karya instalasi yang menonjolkan ornamen lokal yang maknanya telah diwariskan turun temurun pada masyarakat Sentani. Di karya instalasi itu terlihat motif dan ornamen khas seperti jenis ikan papua, tumbuhan, dan simbol dari jiwa-jiwa yang disucikan.

Karya "Pure Passion - After Murni" Mella Jaarsma di pameran Performing Artifacts: Objects In Question, ROH Gallery, Jakarta (Gatra/Eva Agriana Ali)
Karya "Pure Passion - After Murni" Mella Jaarsma di pameran Performing Artifacts: Objects In Question, ROH Gallery, Jakarta (Gatra/Eva Agriana Ali)

Ada juga karya berjudul “Lubang Buaya”. Di instalasi ini, pengunjung bisa berinteraksi dengan karya melalui cara memasukan kepala ke dalam kulit buaya tepat di bagian mulutnya. Seakan-akan merasakan bagaimana kita masuk ke dalam mulut buaya.

Terlepas dari itu, karya ini berangkat dari narasi sejarah tentang lubang buaya di peristiwa 30 September 1965. Mella mengolah ingatan kolektif yang dikonstruksi oleh penguasa tetapi juga menawarkan humor dan pengalaman tubuh yang mendebarkan.

“Merefleksikan satu dekade kerja-kerja Mella Jaarsma, kita bisa melihat adanya pergeseran sudut pandang yang terjadi ketika Mella mencoba memposisikan diri sebagai “orang dalam”. Menawarkan empati dan narasi baru pada objek-objeknya,” kata Alia.

Mella Jaarsma adalah seorang seniman kelahiran 1960 di Emmeloord, Belanda. Sejak 1984 menetap di Yogyakarta dan kemudian di tahun 1988 mendirikan Rumah Seni Cemeti. Ia pernah menempuh pendidikan seni rupa di Minerva Academy di Groningen, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan ISI Yogyakarta.

Mella selama ini dikenal dengan karya instalasi kostum kompleks dan berfokus pada keragaman ras dan budaya yang terekam dalam pakaian, tubuh dan makanan. Karya-karyanya telah dipamerkan di dalam dan luar negeri.

Antara lain: ‘Dunia Dalam Berita’, Macan Museum, Jakarta (2019); The Setouchi Triennale, Japan (2019), the Thailand Biennale (2018); the 20th Sydney Biennale (2016); ‘The Roving Eye’, Arter, Istanbul(2014); ‘Siasat – Jakarta Biennale’, Museum of Ceramics and Fine Arts, Jakarta (2013); ‘Singapore Biennale’, Singapore Art Museum (2011); Yokohama Triennial (2005). dan banyak lainnya. Karyanya juga telah dikoleksi Queensland Art Gallery, Brisbane, National Gallery of Australia dan Singapore Art Museum.

5890