Home Nasional Hadiri Rakernas BEM SI, Menteri Bahlil Malah Ajak Debat Mahasiswa

Hadiri Rakernas BEM SI, Menteri Bahlil Malah Ajak Debat Mahasiswa

Jakarta, Gatra.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyambangi Padang dalam rangka menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) ke-XV.

Tak hanya menyampaikan sambutan, Menteri Bahlil tiba-tiba mengubah formasi acara menjadi front debat terbuka untuk mahasiswa. Bahlil tiba-tiba mencopot pin menterinya (Nayaka) dan mengajak debat terbuka para peserta Rakernas.

“Saya copot dulu ini (pin). Mari kita buka-bukaan. Silakan tanya dan debat saya sekeras-kerasnya,” ujar Bahlil di Universitas Negeri Padang, Selasa (18/10).

Hal ini diiringi tepuk tangan dan riuh para mahasiswa. Bahlil pun meminta para mahasiswa mengritik pemerintah lantaran dirinya adalah bagian dari pemerintah dan siap menjawab semua pertanyaan yang masih mengganjal di benak para mahasiswa.

“Kalian mau kritik pemerintah, silakan! Di forum ini, saya minta untuk kita melakukan dialog yang konstruktif. Tidak apa-apa. Saya juga kan pernah berangkat dari sana (aktivis mahasiswa),” ujar Bahlil.

Peserta Rakernas yang datang dari seluruh Indonesia memburu Bahlil dengan sejumlah pertanyaan diantaranya manfaat jalan tol, krisis ekonomi global dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Menteri Bahlil memaparkan, ancaman krisis di dalam negeri tidak lepas dari dinamika krisis global yang datang silih berganti.

Krisis global berawal dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat, disusul krisis kesehatan yakni Covid-19, kemudian diperparah oleh perang antara Rusia dan Ukraina. Selain itu, ketegangan antara Taiwan dan China sudah terpampang di depan mata.

Covid-19 berawal dari krisis kesehatan berubah menjadi krisis ekonomi, sosial, hingga politik. Menurut Bahlil, Indonesia merupakan negara yang berhasil mengendalikan Covid-19. Di tengah pandemi, muncul perang Ukraina dan Rusia. Perang ini bagi Bahlil melahirkan dua krisis besar.

“Satu krisis energi dan kedua krisis pangan,” ujar dia. Di hampir seluruh dunia terancam oleh kedua krisis ini, termasuk Indonesia. Bahlil mengatakan Indonesia terancam tidak mengonsumsi Indomie dan Pop Mie mengingat 100% Indonesia mengimpor gandum dunia, salah satunya dari Ukraina.

30