Home Politik Menilik Kans Iwan Bule Maju Pilgub Jabar 2024 Usai Tragedi Kanjuruhan

Menilik Kans Iwan Bule Maju Pilgub Jabar 2024 Usai Tragedi Kanjuruhan

Jakarta, Gatra.com – Sudah sejak lama Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, menyatakan siap maju di perhelatan Pilgub Jabar 2024. Ia tercatat sudah mengutarakan keinginannya itu pada Agustus 2022 lalu.

Akan tetapi, Tragedi Kanjuruhan di laga Liga 1 antara Arema vs Persebaya di Malang baru-baru ini bisa menjadi batu sandungan baginya. Pasalnya, ia mendapat tekanan hebat untuk mundur dari posisi ketua PSSI, baik dari warga sipil maupun Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) besutan pemerintah, usai peristwa itu terjadi.

Melansir Antara, peristiwa yang meledak pada 2 Oktober 2022 itu telah memakan korban sebanyak 135 orang per hari ini, Senin, (24/10/2022). Jumlah korban masih bertambah jalan tiga pekan usai malam nahas itu.

Baca jugaTGIPF Minta Pengurus PSSI Tanggung Jawab Atas Tragedi Kanjuruhan

Tak sedikit pihak yang memandang bahwa kejadian di Kanjuruhan tersebut memperkecil kans Iwan Bule untuk menjawarai kontestasi Pilgub Jabar 2024 mendatang. Pasalnya, publik dinilai sudah kehilangan kepercayaan kepadanya.

Salah seorang yang berpendapat demikian adalah pengamat politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin. Akademisi asal Subang, Jawa Barat, tersebut menilai bahwa agak berat bagi Iwan Bule untuk menarik hati warga Jabar di 2024 nanti usai Tragedi Kanjuruhan terjadi awal bulan ini.

“Saya melihat kans Iwan Bule untuk bisa maju dengan dukungan parpol sangat kecil dengan kasus tersebut karena kasus tersebut tragedi terbesar sejarah sepak bola Indonesia,” ujar Ujang kepada Gatra.com, Senin, (24/10).

Ujang beralasan warga Jabar akan meragukan kelayakan Iwan Bule sebagai pemimpin. Selain itu, ia yakin masyarakat juga akan mempertanyakan pertanggungjawaban moral yang hingga hari ini tampak belum ditunjukkan oleh Ketum PSSI tersebut.

Baca jugaAkhirnya, PSSI Minta Maaf Atas Tragedi Kanjuruhan, Janji Bentuk Satgas Perubahan Sepakbola

Sejauh ini, Iwan Bule masih menolak mundur dari posisinya. Ujang menilai hal tersebut mengindikasikan bahwa Iwan Bule takut kehilangan panggung politik menjelang Pilgub 2024 nanti. “Iya, makanya dia enggak mau mundur, kan?” katanya.

Kalau mundur dari posisi Ketua PSSI, kata Ujang, Iwan Bule akan mengalami kekalahan telak bahkan saat Pilgub Jabar belum dimulai. “Mundur tidak mundur juga sebenarnya agak berat menurut saya karena kejadian ini menelan banyak korban jiwa,” ujar lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Sejauh ini menurut pantauan Gatra.com, tuntutan mundur yang dilayangkan kepada Iwan Bule masih bermunculan di ruang media sosial. Walau begitu, terdapat kekhawatiran adanya perbedaan suara di ruang maya dan di ruang darat.

Namun bagi Ujang, dalam kasus Iwan Bule ini, suara warga sipil di ruang maya dan darat tak jauh berbeda. “Kasus Iwan Bule ini agak berat. Meskipun di medsos gencar, tapi kenyataan [di darat] juga begitu,” ujarnya.

“Saya tahu orang Bandung. Saya tahu Bobotoh [pendukung Persib Bandung]. Sekali dia tidak berkenan, ya tidak berkenan,” tandas Ujang.

Hingga saat ini, Iwan Bule memang tampak masih bergeming dengan tekanan untuk mundur itu. Ia berkali-kali menyatakan menolak untuk mundur. Pengurus PSSI beralasan bahwa kemunduran Iwan Bule dari kursi ketum harus melalui mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB).

“Yang berhak meminta KLB itu anggota PSSI, para voter. Pemerintah tidak bisa mencampuri hal itu,” ujar Anggota Komite Eksekutif PSSI, Ahmad Riyadh, seperti dilansir Antara, Selasa, (18/10/2022).

Dalam Statuta PSSI, hanya terdapat dua pihak yang berwenang mengajukan KLB. Keduanya adalah Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan Anggota PSSI. Khusus untuk mekanisme melalui anggota, KLB bisa diselenggarakan apabila sejumlah 50% atau 2/3 dari jumlah total anggota PSSI mengajukan permohonan tersebut.

88