Home Nasional Bappenas: Ekslusivitas dan Populisme Beragama Kian Marak di Era Digital

Bappenas: Ekslusivitas dan Populisme Beragama Kian Marak di Era Digital

Jakarta, Gatra.com - Direktur Agama, Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Amich Alhumami, mengatakan gejala eksklusivitas beragama di era digital saat ini semakin menguat. Ia menyebut adanya kemunculan gejala eksklusivitas di sebagian kelompok penganut suatu mazhab dalam beragama telah mendominasi ruang publik memicu polemik, kontroversi hingga ketegangan di masyarakat.

"Termasuk juga grup-grup pendalaman, pengajian agama yang mengidentifikasi dirinya berbeda secara kategoris cenderung melakukan klaim kebenaran dan menyalahkan kelompok beragama lainnya," kata Amich dalam diskusi publik secara virtual, Rabu (2/11).

Amich mengatakan, klaim kebenaran dan membeda-bedakan pengajian agama secara kategoris, dalam batas tertentu mampu memicu ketegangan hubungan di masyarakat.

"Itu mengubah pola kehidupan yang selama ini terbangun secara harmonis," jelas Amich.

Di sisi lain, gejala populisme beragama yang bertumpu pada sentimen identitas marak terjadi demi kepentingan ekonomi, politik dan akses sumber daya publik. Adapun menurut dia, masing-masing penganut mazhab beragama punya kaitan dengan gerakan transnasional yang mengubah pola relasi sosial dalam kehidupan masyarakat.

"Umumnya mereka punya kaitan dan asal usul-usul dengan gerakan transnasional yang dulu pernah disinyalir oleh Kyai Hasyim Muzadi," sebutnya.

Amich mengatakan, isu-isu populis juga kerap digunakan elit-elit agama dan menjadi perhatian masyarakat dalam kontestasi politik. Ia menjelaskan bahwa ekspresi beragama di ruang publik yang bermotif politik menjadi tantangan serius bagi demokrasi modern. Adapun kecenderungan pihak-pihak yang berpolitik kerap berupaya meningkatkan partisipasi masyarakat dengan mempolitisasi agama.

"Ini bukan dalam konteks baik atau buruk, tapi bagian dari gejala yang kita harus tangkap betul dan bagaimana cara kita mengelola, karena ini riil dalam praktik kehidupan masyarakat dan keagamaan saat ini," imbuhnya.

89