Home Info Sawit Sudah Sangat Seksi, Sejagat Pula. Butuh Ini Saja

Sudah Sangat Seksi, Sejagat Pula. Butuh Ini Saja

Nusa Dua, Gatra.com - Siapapun yang serius menyimak ragam topik di Indonesian Palm Oil Confrence (IPOC) 2022 di Nusa Dua Bali itu, pasti akan mengamini apa yang  dibilang oleh lelaki 57 tahun ini; minyak kelapa sawit kebal krisis!

Soalnya, omongan yang berseliweran sejak IPOC 2022 itu dibuka kemarin dan masih berlangsung hingga hari ini, sawit sangat dibutuhkan dunia. 

Ekonom Singapura, Khor Yu Leng, misalnya. Dia bilang bahwa permintaan minyak sawit dunia konsisten, termasuk oleh negara-negara yang sekarang malah sedang membatasi impor minyak sawit itu. 

Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belgia dan Uni Eropa, Andri Hadi mempertegas omongan Khor tadi; bahwa 30-40% impor minyak nabati Uni Eropa, berasal dari minyak sawit Indonesia.  

Terus, hari ini, Past Chairman Pakistan Edible Oil  Refiners Assosiation (Peora), Abdul Rasheed  Janmohammed, terang-terangan bilang kalau 90% kebutuhan minyak sawit Pakistan, berasal dari Indonesia. 

Janmohammed pun menghamparkan data bahwa dari 2019 lalu, rata-rata impor minyak sawit Pakistan berada di angka 3 juta ton. Tahun ini, hingga bulan September impornya sudah lebih dari 2 juta ton. 

Dari banyaknya kebutuhan itulah yang kemudian membikin Pakistan sempat kelimpungan waktu Indonesia meng-embargo minyak sawit pada 28 April-23 Mei lalu. 

Gara-gara embargo itu, stok minyak sawit Pakistan yang biasanya berada di kisaran 300 ribu ton, sempat melorot hingga 21 ribu ton. India juga merasakan dampak yang sama atas embargo itu. 

"Jadi, enggak mungkin kita bisa dapat devisa hingga USD35 miliar, kalau kita tidak mengekspor minyak sawit," tegas lelaki 57 tahun tadi. Namanya Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). 

Dia tak sendirian, tapi ditemani oleh Ketua Bidang Fiskal GAPKI, Bambang Aria Wisena dan Chairperson IPOC, Mona Surya. 

Kalaupun sekarang ada persoalan geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina dan prediksi kalau tahun depan bakal ada resesi ekonomi dan pangan, bagi Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, justru akan menjadi peluang bagi Indonesia untuk memainkan perannya. 

Lagi-lagi karena itu tadi, dunia sudah bergantung pada minyak sawit. Tinggal lagi bagaimana negara dan pemerintah mengoptimalkan perannya dengan memberikan dukungan yang konsisten kepada sawit. 

"Sebisanya, jangan bikin kebijakan yang mendistorsi pasar. Dinamika harga minyak goreng beberapa waktu lalu, jadikan pelajaran. Kalau nanti ada  kebijakan pemerintah yang kontraproduktif, GAPKI  bersuara agak keraslah," pinta Hariyadi.   
    
Apa yang dibilang Hariyadi tadi menurut Bambang justru teramat betul. "Hingga beberapa dekade ke depan, ekonomi Indonesia masih dari sawit. Lantaran itu kebijakan pemerintah untuk mendukung keberlanjutan industri yang sudah menjadi tulang punggung perekonomian nasional ini, sangat dibutuhkan," ujarnya. 

Kalau kemudian masih banyak orang keukeuh menjelek-jelekkan minyak sawit Indonesia, Khor justru melihat kalau momentum G20 yang juga bakal digelar di Bali bulan ini, bisa menjadi batu lompatan bagi Indonesia untuk menjadi motor penggerak minyak nabati berkelanjutan, baik di tingkat domestik maupun global. 

Tidak spesifik Khor menyebutkan soal motor penggerak tadi. Tapi kalau urusan minyak berkelanjutan tadi, sebetulnya sudah banyak yang dilakukan oleh Indonesia.

Sampai sekarang kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, sudah 3,65 juta hektar kebun sawit Indonesia yang mengantongi sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Luasan ini menghasilkan minyak sawit sekitar 22 juta ton.  

Itu, terlepas dari keunggulan sawit sebagai minyak nabati yang paling sedikit menghabiskan lahan kata Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. 

Kalau sehektar kebun sawit bisa menghasilkan 4,3 ton minyak sawit, sehektar Soybean cuma bisa menghasilkan 0,45 ton, Repeseed 0,7 ton dan Sunflower 0,52 ton. 

Gara-gara produktifitas yang kayak beginilah kata Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, kalau luas kebun sawit dunia mencapai 24 juta hektar, Soybean justru 127 juta hektar, Rapeseed 35,5 juta hektar dan Sunflower 27,6 juta hektar.  

Kemarin, secara virtual, Airlangga membuka acara IPOC dan Outlook Palm Oil 2023 yng dihadiri hampir 1500 orang itu. Syahrul Yasin Limpo ikut memberikan sambutan, secara virtual juga.  


 

94