Home Ekonomi Masalah Ekspor Kian Beragam, Pengekspor Diminta Bisa Susun Mitigasi Resiko

Masalah Ekspor Kian Beragam, Pengekspor Diminta Bisa Susun Mitigasi Resiko

Jakarta, Gatra.com - Senior Vice President Head of Insurance at Indonesia Eximbank, Marsinta Mutiara Gultom, menyatakan bahwa sejatinya pihak pengekspor kerap kali menghadapi permasalahan yang beragam. Banyaknya risiko membuat Marsinta meminta pengekspor untuk berhati-hati dan melakukan mitigasi risiko.

"Problem pengekspor nomor satu, selain pembiayaan, banyak pengekspor yang pencatatannya belum baik. Banyak dari mereka yang ditolak dari bank, dianggap belum ready," ujarnya dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama antara CRIF dan Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) di Jakarta, Rabu (9/11).

Ia juga menyebutkan masih banyak pengekspor yang belum memahami bagaimana cara menjual produknya. Padahal, produk yang dihasilkan sudah mampu bersaing. Marsinta juga mengatakan bahwa dalam banyak kasus, ketika pengekspor bertemu buyer, terdapat situasi masalah yang muncul seperti risiko country.

"Contoh, saat perang antara Rusia dan Ukraina. Waktu perang pecah saat 24 Februari lalu, banyak pengekspor yang melaporkan kekhawatiran bahwa barangnya tidak akan dibayar," katanya.

Sebagai lembaga yang membantu pengekspor dalam konsultasi maupun pemberian informasi mitigasi, Marsinta menyebutkan pentingnya informasi dari calon pembeli sebagai pencegahan kerugian yang mungkin terjadi. Hal ini disebabkan banyaknya pihak terlibat dalam ekosistem ekspor itu sendiri.

Menurutnya, pemahaman untuk mengetahui risiko luar negeri menjadi hal yang dibutuhkan dalam perdagangan eskpor.

"Kenapa kita selalu encourage pengekspor harus ada mitigasi? Karena di awal, bisa saja perusahaan sehat. Tapi dalam beberapa bulan, keadaannya bisa berganti. Ini terjadi dimana-mana. Penting untuk memahami risiko di luar negeri," ucapnya.

Hingga Juni 2022, terdapat 689 pengaduan penipuan yang diterima Indonesia melalui contact center dan media sosial Bea Cukai. Data hasil studi Kroll, perusahaan konsultan investifatif dan risiko, turut menyampaikan bahwa selama periode Februari-Juli 2021, 80% dari total 241 perusahaan di Indonesia mengalami tindakan penipuan dan kecurangan.

Menurutnya, kerja sama antar berbagai pihak diperlukan, terutama dalam upaya menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para pengekspor.

"Kami mendukung pengekspor tidak sendirian, ekosistemnya sangat luas. Kita berpartner dengan banyak pihak supaya saling melengkapi dari mitigasi, pembiayaan, hingga pembelajaran. Kenyamanan pengekspor harus didukung supaya ekspor nasional tumbuh," ujarnya.

67