Home Ekonomi Hingga Oktober 2022, APBN RI Defisit Rp169,5 Triliun, Kok Bisa?

Hingga Oktober 2022, APBN RI Defisit Rp169,5 Triliun, Kok Bisa?

Jakarta, Gatra.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2022 mengalami defisit. Sampai dengan 31 Oktober 2022, total defisit postur APBN 2022 sebesar Rp169,5 triliun.

"APBN sudah mengalami defisit Rp169,5 triliun atau ini adalah 0,91% dari PDB," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA secara virtual, Kamis (24/11).

Dari sisi pendapatan negara, sampai dengan akhir Oktober 2022 tercatat sebesar Rp2.181,6 triliun dari target APBN 2022 dalam Perpres 98/2022 sebesar Rp2.266,2 triliun. Capaian itu lebih tinggi 44,5% dibandingkan pendapatan negara pada Oktober tahun lalu sebesar Rp1.510,2 triliun. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2022  mengatur Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2021 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2022

Adapun penerimaan pajak per Oktober 2022 mencapai Rp1.448,2 triliun atau naik 51,8% dibandingkan tahun lalu Rp953,8 triliun. Dari bea cukai sebesar Rp256,3 triliun atau naik 24,6% dan PNBP sebesar Rp476,5 triliun atau naik 36,4% dibandingkan Oktober 2021.

"Kalau kita lihat pertumbuhan penerimaan semuanya jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebenarnya sudah mulai terjadinya recovery," kata Sri Mulyani.

Sementara, dari sisi belanja negara, hingga akhir Oktober 2022 total belanja mencapai Rp2.351,1 triliun. Adapun target Perpres sebesar Rp3.106,4 triliun atau naik 14,2% dibandingkan periode tahun lalu sebesar Rp2.058,9 triliun.

"Belanja non K/L (kementerian dan lembaga) naik sampai 57,4 % terutama karena kompensasi dan subsidi," sebut Sri Mulyani.

Kendati, ia berujar bahwa defisit APBN sebesar Rp169,5 triliun dinilai masih lebih rendah dari target defisit dalam Perpres 98/2022 sebesar Rp840 triliun atau 4,5% dari PDB. "Jadi sampai dengan Oktober 2022 defisit APBN nya di Rp169,5 triliun masih jauh lebih rendah dari Perpres," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa defisit APBN mulai terjadi sejak Oktober 2022 disebabkan dampak dari semakin optimalnya APBN sebagai shock absorber terhadap tekanan global dan domestik. "Kinerja fiskal yang cukup baik mendorong penurunan kebutuhan pembiayaan utang," imbuhnya.

80