Home Ekonomi Perayaan Thanksgiving di AS, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp15.665 per Dolar AS

Perayaan Thanksgiving di AS, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp15.665 per Dolar AS

Jakarta, Gatra.com - Nilai tukar Rupiah pada perdagangan Kamis sore ini (24/11) ditutup menguat 21 poin di level Rp15.665 per Dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh indeks Dolar AS yang melemah pada perdagangan hari ini.

Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan indeks Dolar kemungkinan juga disebabkan pasar AS yang ditutup pada hari Kamis ini untuk perayaan Thanksgiving.

"Likuiditas kemungkinan akan lebih tipis dari biasanya," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (24/11).

Selain itu, pelemahan Dolar AS juga disebabkan karena investor menginginkan prospek laju kenaikan suku bunga acuan yang lebih lambat oleh Bank Sentral AS yakni Federal Reserve atau The Fed.

Bulan ini, The Fed menaikkan suku bunga utamanya sebesar tiga perempat poin, persentase untuk keempat kalinya berturut-turut debagai upaya menjinakkan inflasi yang sangat tinggi.

"Pada saat yang sama, para pembuat kebijakan mengakui hanya ada sedikit kemajuan yang dapat dibuktikan pada inflasi dan bahwa suku bunga masih perlu dinaikkan," terangnya.

Adapun data harga konsumen AS yang sedikit lebih dingin dari perkiraan, kata Ibrahim telah memicu harapan akan laju kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat.

"Harapan itu telah membuat indeks dolar merosot 5,1% pada November, menempatkannya di jalur kinerja bulanan terburuk dalam 12 tahun," sebutnya.

Meski Rupiah mulai menguat, Ibrahim mengingatkan bahwa kondisi global masih cukup berat, bahkan di tahun depan. Karena itu, Pemerintah, kata Ibrahim, perlu tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan moneter dan fiskal.

"Apabila salah mengambil keputusan maka akan berdampak fatal terhadap proses pemulihan ekonomi. Sedangkan Kunci untuk menghadapi gejolak tersebut adalah sinergi dan koordinasi," jelasnya.

Lebih lanjut, Ibrahim menekankan bahwa sinergitas kebijakan moneter dan fiskal jadi peran kunci bagi pemerintah menghadapi gejolak ekonomi.

Instrumen kebijakan fiskal dan moneter juga patut difokuskan untuk menjaga inflasi pada titik keseimbangan. Ibrahim mengatakan bahwa dari sisi moneter, kenaikan suku bunga acuan memang dinilai bisa mengendalikan inflasi, namun berdampak pada perekonomian yang melambat. Sedangkan dari sisi fiskal, ia menyebut agar instrumen stok barang harus dilakukan untuk mengendalikan harga komoditas dalam negeri.

Adapun untuk perdagangan besok, Ibrahim mempredkksi mata uang Rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun tetap ditutup menguat direntang Rp15.640 - Rp15.690 per Dolar AS.

22