Home Sulawesi Hari Guru Nasional 2022, Suara Guru Honorer yang Terpinggirkan

Hari Guru Nasional 2022, Suara Guru Honorer yang Terpinggirkan

Makassar, Gatra.com - Peringatan Hari Guru yang jatuh tiap 25 November 2022 dimaknai dengan cara lain bagi sebagian guru, terutama mereka yang jauh di pelosok negeri. Peringatan yang seyogyanya bermakna perayaan berubah jadi suara kegelisahan.

Setiap hari, Hijrah, salah satu guru honorer yang mengajar di SMPN 54 Makassar, mesti menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer menuju sekolah yang berada di daerah pesisir pantai, Metro Tanjung Bunga.

Hijrah berpegang teguh pada prinsip bahwa mengajar adalah anugerah. Ia senang berbagi banyak hal terhadap muridnya dan mengabaikan fakta bahwa dunia pendidikan adalah dunia yang kompleks dan penuh tantangan.

Kini genap dua tahun Hijrah menggeluti dunia pendidikan. Pada tahun pertama, ia diupah sebesar Rp10 ribu per jam. Dalam sepekan, maksimal mengajar dibatasi hingga 24 jam. Pada tahun kedua, gajinya mengalami kenaikan, walau hanya Rp1.000 per jam.

Gaji tersebut berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang besarannya merujuk pada jumlah siswa yang diajar. Nilainya sekitar Rp1 juta per siswa dan cair tiap 4 bulan sekali.

Sebagai sekolah kecil dan baru, Hijrah mengatakan dana BOS tersebut tak cukup untuk menutupi seluruh kebutuhan sekolah. Pasalnya, dana tersebut juga terbagi pada kegiatan lain, seperti membiayai siswa pada perayaan HUT Kota Makassar atau Hari Kebudayaan, misalnya.

Di samping mendapatkan gaji kecil, waktu gajian pun kerap kali molor. Penderitaan semacam itu bukan hal baru buatnya. "Saya mengajar 16 jam per Minggu. Jadi biasa Rp700 ribu per bulan. Gali lubang tutup lubang," ujar Hijrah kepada Gatra.com, Jumat (25/11).

Gaji tersebut Hijrah pakai untuk kebutuhan transportasi sebesar Rp300 ribu per bulan. Sisanya, kata dia, dipakai untuk makan dan kebutuhan hidup. Pendeknya, gaji sebesar itu jauh dari kata cukup.

Di sisi lain, ia mengaku kesulitan terhadap tuntutan tenaga pendidik yang harus terus berinovasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara, dana pendidikan sangat minim. "Selama menjadi guru saya belum bisa berpikir merdeka," tuturnya.

 

72