Home Sumbagsel Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Sumsel

Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Sumsel

Palembang, Gatra.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), menyebutkan kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar pada laju inflasi November 2022 di Bumi Sriwijaya.

Dimana, pada November 2022 terjadi inflasi year on year (yoy) sebesar 5,87 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,36. Inflasi yoy di Kota Palembang sebesar 5,90 persen dengan IHK sebesar 112,36 dan di Kota Lubuklinggau sebesar 5,58 persen dengan IHK sebesar 112,36.

“Berdasarkan laporan BPS, kelompok pengeluaran yang dominan menyumbang andil inflasi tahunan pada Oktober 2022 adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau,” ujarnya Sekda Provinsi Sumsel, S.A. Supriono, Kamis (1/12).

Menurutnya, pada triwulan III tahun 2022 untuk pertumbuhan ekonomi Nasional adalah 5,72 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi Triwulan III Provinsi Sumsel mampu tumbuh sebesar 5,34 persen dan telah berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi sebagaimana sebelum pandemi Covid-19 dengan pertumbuhan di atas 5 persen.

Selain itu, lanjutnya, tidak lama lagi tahun 2022 akan berakhir, tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. “Dimana Indonesia setelah menghadapi pandemi Covid-19 yang sangat mempengaruhi perkembangan perkonomian negara kita tidak terkecuali perekonomian global juga turut mengalami keterpurukan meskipun dapat dikewati,” katanya.

Kendati begitu, sambungnya, di awal tahun 2022 pada saat ekonomi negara sedang berbenah diri kita telah dihadapkan kembali pada kondisi ekonomi global yang masih tidak pasti yaitu krisis energi yang menyebabkan naiknya biaya energi dunia.

“Tentunya, hal ini juga mempengaruhi perekonomian Indonesia dengan menyebabkan kenaikan harga pada CPO dan berimbas pada harga komoditi minyak goreng,” ujarnya.

Pada awal September 2022 lalu akhirnya Pemerintah Pusat mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri dan hal ini menyebabkan kenaikan harga pada komoditi-komoditi pangan pokok dan penting lainnya, serta biaya kebutuhan hidup meningkat. Tingkat Inflasi daerah maupun nasional pun merangkan naik.

Menurutnya, melonjaknya tingkat inflasi tidak hanya terjadi di negara Indonesia, namun negara-negara di eropa mengalami keterpurukan ekonomi lebih parah, biaya listrik dan harga pangan di eropa melonjak akibat invasi Rusia ke Ukrania, gelombang protes dan aksi mogok massal menyebar di eropa.

Dijelaskannya, Negara Indonesia juga tak luput dari imbasnya kondisi krisis ekonomi dunia, namun tak separah yang terjadi di negara-negara eropa dan beberapa di Asia. Pemerintah Indonesia awalnya telah berupaya dan mengantisipasi agar tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sampai terpuruk akibat dari krisis energi.

Pemerintah secara aktif melalui Kementerian-Kementerian terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat berkoordinasi aktif dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah seluruh Indonesia untuk mengawal tingkat inflasi Nasional dan Daerah.

“Upaya Pemerintah untuk mengawal dan menjaga tingkat Inflasi Nasional hingga Daerah supaya tetap rendah dan stabil, hingga saat ini menunjukan hal yang cukup baik, namun kita tetap harus waspada,” katanya.

Dikatakannya, guna memitigasi ketidakpastian ekonomi ke depan yang berasal dari potensi resiko resesi ekonomi global, perlu dilakukan beberapa upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumsel. Di antaranya, bersinergi untuk mendorong ralisasi investasi di Sumsel.

“Untuk itu, kita bersama perlu memperbaiki iklim investasi di Sumsel termasuk kemudahan perizinan, pembiayaan usaha, ketersediaan infrastruktur,” ujarnya.

Selanjutnya, peningkatan nilai tambah komoditas unggulan Sumsel melalui hilirisasi, antara lain komoditas batubara, karet dan CPO. Salah satunya melalui proyek hilirisasi Batubara menjadi DME. Kemudian, mendorong digitalisasi termasuk digitalisasi Pemerintah Daerah untuk bias mendorong optimalisasi pendapatan daerah dan efisiensi belanja.

“Lalu, mendorong pembiayaan ke pelaku usaha melalui penyaluran kredit oleh perbankan, serta terakhir penguatan sinergi dan koordinasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi Sumsel,” katanya.

86