Home Sulawesi Jelang Nataru, BI Sulsel Koordinasi Pengendalian Inflasi

Jelang Nataru, BI Sulsel Koordinasi Pengendalian Inflasi

Makassar, Gatra.com - Jelang Natal dan Tahun Baru, Bank Indonesia atau BI Sulsel lakukan rapat koordinasi dengan pemerintah setempat, ihwal pengendalian Inflasi.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Causa Iman Karana menuturkan, pengendalian inflasi terus dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di sejumlah kab/kota.

Hal itu, kata dia, untuk memperkuat ketersediaan pasokan, khususnya komoditas beras. Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan telah mengeluarkan surat edaran pada November 2022, terkait pengadaan gabah/beras untuk penguatan cadangan beras pemerintah (CBP).

"Sejalan dengan itu, program pemanfaatan pekarangan rumah tangga serta gerakan tanam cabai di beberapa daerah di Sulsel juga dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan," ujar Causa, Jumat (2/12).

Selain itu, kerja sama antar daerah, khususnya intra wilayah Sulsel terus diperkuat sebagai tindak lanjut Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Sulsel.

Ke depan, Causa mengatakan akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait lewat TPID dalam rangka menjaga stabilitas inflasi dengan mengacu pada strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).

Di sisi lain, ia menjelaskan Sulsel mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25% (mtm) pada November 2022, setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,18% (mtm).

Inflasi Sulsel berada di posisi lebih tinggi dibandingkan nasional dan Sulampua yang masing-masing tercatat mengalami inflasi sebesar 0,09% dan 0,21% (mtm), utamanya disebabkan oleh lebih tingginya inflasi pada kelompok bahan makanan, perumahan, dan transportasi.

Secara spasial, dari 5 kota IHK (Bulukumba, Makassar, Palopo, Pare-pare, dan Watampone) di Sulsel, Kota Makassar merupakan daerah yang mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,31% (mtm), sedangkan deflasi bulanan terendah dialami oleh Kota Palopo sebesar -0,19% (mtm).

Secara tahun kalender, Sulsel tercatat mengalami inflasi sebesar 5,03% (ytd), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,76% (ytd). Sementara itu, secara tahunan, Sulsel tercatat mengalami inflasi sebesar 6,00% (yoy).

"Inflasi bulanan di Sulsel pada November 2022 disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dan kelompok transportasi dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,12%; 0,05% dan 0,5% (mtm)," tuturnya.

Sementara, Inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebesar 0,40% (mtm) utamanya dipengaruhi oleh kenaikan harga bawang merah, tomat, dan ikan layang.

Kenaikan harga sewa dan kontrak rumah juga turut menyumbang tekanan inflasi khususnya pada Kelompok Perumahan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sehingga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,40% (mtm).

Inflasi pada kelompok transportasi sebesar 0,28% (mtm) utamanya disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara sejalan dengan tren peningkatan permintaan menjelang libur akhir tahun.

Di sisi lain, inflasi lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan.

29