Home Pendidikan Pakar Soroti Peran Penting Pendidikan Daring Di Era Digital

Pakar Soroti Peran Penting Pendidikan Daring Di Era Digital

Jakarta, Gatra.com - Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) kedatangan Visiting Professor dari Seattle Pacific University (SPU), Amerika Serikat. Kerjasama ini dimaksudkan sebagai bentuk peningkatan di bidang kurikulum dan pengajaran serta kepemimpinan pendidikan digital.

Profesor Perwakilan dari SPU, Dr. Wicks mengatakan bahwa dirinya coba menjelaskan peran pendidikan online kedepan.

Pendidikan yang semula mengacu kepada pendidikan tatap muka, akan tetapi berkat kemajuan teknologi saat ini membuat pendidikan secara online menjadi pilihan yang bisa dikatakan terbaik.

"Terutama di masa pandemi dan kini memasuki era digital," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/12).

Ia pun memperkenalkan konsep pembelajaran menggunakan CoI Framework berlandaskan pada filosofi kolaboratif-konstruktivis, yang menitikberatkan proses menciptakan pengalaman belajar secara mendalam dan bermakna melalui pengembangan tiga elemen (kehadiran) yang saling terkait, yakni kehadiran sosial, kognitif, dan pengajaran.

Sementara itu, konsep lain yakni quest model merupakan model belajar yang dapat diterapkan untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran, dengan menggunakan strategi mengajukan pertanyaan yang menarik sesuai minatnya (ask Question), serta memahami topik (Understand topic) melalui pencarian data dan membagikan sumbernya.

"Dalam prosesnya mahasiswa juga bekerja sama satu sama lain untuk saling mengajar, mencari solusi, dan mengajarkan hasil belajar mereka kepada orang lain melalui media blog atau sosial media," bebernya.

Terakhir, Dr. Wicks juga menekankan pentingnya pendekatan resilient pedagogy mencakup nilai-nilai ketahanan dalam desain pembelajaran, oleh pengajar dan mahasiswa dalam situasi yang menuntut kemampuan kita untuk menghadapi, beradaptasi, dan bertahan, dalam situasi yang sulit.

Ada Tiga prinsip penting dalam resilient pedagogy adalah extensibility, flexibility, dan redundancy. Prinsip extensibility menekankan perlunya membangun desain pembelajaran dengan format dasar dan dengan tujuan.

Sedangkan, pada prinsip flexibility memandang perlu mempertimbangkan variabilitas dalam lingkungan belajar, serta menerapkan desain pembelajaran yang praktis dan dapat diterapkan dalam lingkungan belajar yang berbeda dari harapan semula.

"Menurut prinsip yang terakhir, prinsip redundancy, pengajar membuat rencana yang bervariasi dan mengenali komponen yang rentan sehingga dapat disiapkan rencana pengganti bila situasi memerlukannya," tegasnya.

49