Home Kalimantan Produksi Padi Melimpah, Kalsel tidak perlu beras impor

Produksi Padi Melimpah, Kalsel tidak perlu beras impor

Banjarbaru, Gatra.com - Produksi padi di Kalimantan Selatan (Kalsel) diklaim sangat melimpah. Menurut data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kalsel dan data BPS Kalsel, sampai November 2022, angka produksi padi di provinsi gerbang ibu kota negara itu sudah lebih 800 ribu ton. Sedangkan kebutuhan beras untuk 4,3 juta warga Kalsel per tahun hanya 400 ribu ton.

Kepala Dinas TPH Kalsel, Syamsir Rahman mengungkapkan, Kalsel sebagai penyangga pangan nasional di sektor pertanian dengan komoditas beras di urutan 12 nasional, sampai saat ini masih surplus dengan varietas beras lokal Siam dan Mayang.

"Di pulau Kalimantan, Kalsel adalah satu -satunya provinsi yang mengalami surplus di angka 42.000 ton dengan produksi keseluruhan di angka 873.000 ton. Ini patut kita syukuri dan kita berbangga hati dengan perjuangan para petani yang selalu setia menanam padi untuk memberi makan warga Kalsel," ujarnya kepada Gatra.com di Banjarbaru, Senin (5/12).

Dia tegaskan, ketersediaan beras di Kalsel masih tetap terjaga dengan aman. Selain beras lokal atau premium  yang ada di lumbung - lumbung, rumah tangga, penggilingan, sentra produksi, pasar juga di gudang Bulog Kalsel yang masih tersedia hingga akhir tahun.

"Awal tahun 2023 atau di awal Pebruari, Kalsel akan mulai panen lagi dari penanaman yang dilakukan sejak bulan Oktober. Ketersedian produksi beras ini menjadi jaminan kalau Kalsel tidak perlu beras impor," tegas pria yang juga menjabat sebagai Pj Sekda Kabupaten Tapin itu.

Syamsir berujar, kalau dilakukan impor beras, maka nasib petani Kalsel akan kembali suram. Harga beras turun, otomatis menurunkan pendapatan petani. Beras impor harganya Rp7.000 di luar negeri, namun beras tersebut adalah beras unggul, bukan beras premium atau lokal yang rasanya sangat digandrungi warga Kalsel.

"Selera atau minat warga Kalsel sudah terbiasa dengan beras lokal. Di lain pihak kita juga harus membantu dan membela petani. Kalau dengan harga Rp7.000 per liter tentu kita tidak berpihak kepada petani yang membutuhkan pembelaan dan perlindungan dari kita," cetusnya.

Karena itu, lanjut Syamsir, semua pihak hendaknya berterima kasih dan menghargai petani yang sudah melakukan penanaman hingga produksi dengan biaya yang mahal karena dampak kenaikan harga BBM. Disamping itu, petani juga tidak mengenal pandemi Covid-19 dengan tetap menanam padi.

Juga tidak mengenal inflasi dan resesi tetap menanam. "Kalau bukan kita sendiri yang menghargai petani, siapa lagi. Pangan adalah kebutuhan utama dan petani adalah pelaku dan pejuangnya. Tanpa petani, kita bisa makan apa. Sampai kiamatpun pangan harus tetap ada dan kita butuhkan. Petani adalah pahlawan dan penjaga kedaulatan pangan untuk negeri," ungkapnya.

90