Home Pendidikan Terlalu Fokus Kurikulum, Guru Kerap Abai Lihat Kemampuan Siswa

Terlalu Fokus Kurikulum, Guru Kerap Abai Lihat Kemampuan Siswa

Jakarta, Gatra.com- Guru dinilai belum sepenuhnya fokus dalam melihat kemampuan siswa saat mengajar. Selama ini, guru-guru di Indonesia seolah masih terbelenggu dalam merampungkan target kurikulum. Imbasnya, guru hanya melihat materi di buku dan menggunakan materi dengan cara yang sama untuk semua anak di satu kelas.

Plt Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbudristek, Zulfikri Anas mengatakan, guru dan siswa merupakan korban dari paradigma mengajar yang hanya mengejar target kurikulum. Dengan hanya menggunakan cara tersebut pun, Zulfikri melihat justru akan menimbulkan persoalan.

“Karena cara tersebut belum tentu cocok untuk semua anak yang ada di kelas,” ujar Zulfikri saat menjadi pembicara di acara Temu Inovasi dengan tema Capaian Keterampilan Dasar Siswa Indonesia, Selasa (6/12).

Dirinya pun pernah mendapati sebuah sekolah di mana siswa kelas 10 yang usianya rata-rata 15 tahun ke atas yang masih tertinggal pelajaran matematikanya. Hal ini dikarenakan guru yang mengajar di sekolah tersebut hanya berdasarkan kurikulum tanpa melihat kemampuan siswa.

“Ketika diminta mengisi soal perkalian, untuk satu dan dua digit masih bisa tapi untuk tiga digit dan seterusnya kesulitan. Setelah dicek lagi, kemampuan siswa kelas 10 itu setara dengan siswa kelas 2 SD,” kata dia.

Karenanya, Zulfikri menilai peran guru dalam memahami kemampuan siswa menjadi penting. Utamanya, kemampuan ini amat dibutuhkan oleh guru pada pendidikan usia dini. Salah satu cara yang paling baik dilakukan guru dalam melihat kemampuan siswa, adalah menjalin komunikasi dengan sang orang tua.

“Sepanjang ada anak yang mau belajar dan orang dewasa yang mendampingi itu bsia. Jadi sasarannya bukan ubah kurikulum tetapi bagaimana meningkatkan pelayanan kualitas pendidikan kepada peserta didik,” tegas Zulfikri.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Sumba Tengah  NTT Magdalena Kalli berpandangan serupa. Menurutnya, guru harus memiliki kemampuan untuk membaca kemampuan siswa.

“Serta untuk meningkatkan kemampuan siswa usia dini, juga perlu regulasi yang mengikat antara dinas pendidikan dengan sekolah,” tegasnya.

107